Saya sungguh iri dengan manusia bernama Basuki Tjahaya Purnama ini. Di balik jeruji besi yang hanya berteman dengan kitab suci, dia terus memancarkan iman yang sulit tertandingi. Mungkin dia kecewa dan berhak untuk kecewa, tetapi kenyataan bahwa dia mengembalikan Biaya Penunjang Operasional (BPO) bulan ini –yang sebagian adalah haknya–kepada negara adalah sebuah pukulan telak kepada kita yang masih suka berbangga dengan embel-embel dalam beragama.

Bagi Basuki Tjahaya Purnama, beragama jelas bukan sekadar pergi setiap minggu ke gereja. Dia menjadikan agama sebagai standar moral dalam seluruh tindakannya ketika berkuasa. Bahkan setelah dia masuk penjara, imannya terus terpancar dan semakin bercahaya.

Kontras dengan itu, beberapa politisi Muslim justru menggunakan istilah-istilah dalam tradisi membaca Al-Quran sebagai kode ketika melakukan korupsi. Bagi saya, hal ini justru merupakan contoh penodaan agama yang sesungguhnya. Tetapi orang-orang itu bungkam, sebab agama bagi mereka tak lebih dari kata-kata untuk meraih kekuasaan belaka.

Ya Allah, ampunilah kami …

catatan Amin Mudzakkir

Iklan