Apakah komunisme (Bahasa Arab: Syayu’iyyah) pernah tumbuh dan berkembang di Tanah Arab dan Timur Tengah? Pernah. Bahkan pernah berjaya sebelum digempur habis-habisan oleh Amerika yang berkoalisi dengan para rezim dan tokoh lokal Arab lain yang pro-kapitalis, sejak era Perang Dingin yang berkobar antara blok kapitalis Amerika dengan blok komunis Soviet.

Amerika tidak ingin komunisme berkembang di Timur Tengah (dan dimana saja di dunia ini) karena ia bisa mengganggu keamanan, kelangsungan, dan stabilitas kapitalisme. Oleh karena itu Amerika berupaya sekuat tenaga untuk melenyapkan ideologi komunis di berbagai negara. Motif utama Amerika tentu saja ekonomi, bukan agama.

Palestina, Mesir, Libanon, Yordania, Irak, Iran, Suriah, Aljazair, Maroko, dlsb, dulu pernah menjadi “sarang komunis”. Bahkan komunisme juga pernah tumbuh dan berkembang di Arab Saudi (lihat studi Toby Matthiesen, “The Other Saudis”). Pendukung komunisme di Timur Tengah berasal dari berbagai agama dan etnis: Muslim, Yahudi, Kristen, Arab, Kurdi, Persi, Azeri, Armenia, dlsb.

Di Tanah Arab dan Timur Tengah, komunisme berkembang sejak 1920an setelah Revolusi Bolshevik tahun 1917 yang dipimpin oleh Vladimir Lenin yang berhasil menumbangkan kekuasaan para Tsar dan menandai berdirinya Uni Soviet.

Beberapa tokoh beken Timur Tengah pendukung komunisme kala itu termasuk Husain al-Rahhal (tokoh Marxist Irak pertama), Joseph Rosenthal (Yahudi kelahiran Palestina tapi aktif di Mesir), Mahmud Husni al-Urabi (tokoh Muslim), Anton Marun (tokoh Kristen Koptik), Radwan al-Hilu yang kemudian menjadi Sekjen Partai Komunis Palestina. Tokoh lain adalah Fu’ad al-Shamali dan Yusuf Yazbak (keduanya tokoh partai komunis di Libanon), Emile Habibie, Bulus Farah, Mukhlish Amr, dan masih banyak lagi.

Para tokoh komunis Arab (baik Muslim maupun bukan) bukan hanya menjadi aktivis dan simpatisan ideologi komunisme tetapi bahkan mendirikan Parai Komunis di daerah mereka masing-masing. Partai-partai komunis Arab ini kini banyak yang terkubur dalam limbo sejarah tetapi sebagian masih eksis dengan mengubah nama atau melebur dengan partai atau ormas lain. Contohnya Partai Komunis Palestina (al-Hizb al-Syayu’ii al-Falistini) yang kelak “berganti kelamin” menjadi Partai Rakyat Palestina yang kemudian ikut brgabung dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

***

Komunisme adalah sebuah filosofi, sistem, ideologi, dan gerakan sosial-politik-ekonomi yang bersifat lintas-agama, lintas-etnik, dan lintas suku-bangsa. Secara konseptual, komunisme itu tidak ada hubungannya dengan ateisme yang selama ini disalahpahami oleh banyak pihak termasuk di Indonesia.

Bahwa ada orang komunis yang ateis memang iyyess tetapi tidak semua pendukung komunisme itu ateis. Banyak dari mereka yang berasal dari kelompok agama alias “kaum teis”, termasuk di kawasan Tanah Arab dan Timur Tengah, dimana pendukung komunisme adalah kaum agama. Karena itu yang mengatakan komunis = ateis adalah propaganda murahan! Itu hanya akal-akalan Orde Baru!

Komunisme (dari Bahasa Latin: “communis” yang berarti “umum, bersama, universal”) adalah sebuah filosofi dan ideologi sosial-politik-ekonomi yang bertujuan menciptakan sebuah “masyarakat komunis,” yakni sebuah masyarakat yang berbasis pada sistem, struktur dan tatanan sosial-politik-ekonomi yang egaliter dan tanpa kelas.

Dalam perkembangannya, ada berbagai mazhab komunisme seperti Marxisme, Leninisme, Anarkhisme, dlsb. Para sarjana dan sejarawan berselisih pendapat tentang asal-usul komunisme. Karl Marx berpendapat, komunisme sudah ada sejak dahulu kala dan dipraktekkan oleh kelompok-kelompok suku hunters dan gatherers (hunting-gathering society atau “foraging society”).

Marx menyebut mereka sebagai “masyarakat komunis primitif” karena pola hidup mereka, meskipun simpel, bertumpu pada azas egalitarianisme dan kolektivisme atau komunalisme. Ada pula sarjana (seperti Richard Pipes) yang mengatakan asal-usul komunisme itu dari Yunani Kuno. Yang lain menyebut komunisme berasal dari Gerakan Mazdak di Persi pada abad ke-5 M.

Jadi, hanya orang-orang yang pikun sejarah dan rabun wawasan sajalah yang menganggap komunis itu ateis!

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan