Gus Roy: Menodai Agama dengan Salat

Salah satu orang yang terpidana dengan tuduhan penodaan agama, Pasal 156 KUHP bernama Yusman Roy. Ia adalah seorang pimpinan pondok pesantren. Tapi kenapa ia dituduh menodai agama?

Jawabannya akan membuat perut Anda mulas. Yusman Roy, biasa dipanggil dengan nama Gus Roy ini mengajarkan bahwa salat boleh saja pakai bahasa sendiri. Dalam hal orang Indonesia, pakai bahasa Indonesia. Kalau orang Jawa, boleh pakai bahasa Jawa.

Menurut orang-orang MUI salat semacam itu salah, sesat. Pelakunya harus dihukum. Maka Gus Roy kena hukuman.

Hebat bukan? Ada manusia yang berhak menghakimi ibadah manusia lain. Ada orang yang berhak menghukum orang lain, karena cara dia menyembah Tuhan dianggap salah. Ini pengadilan manusia atau pengadilan Tuhan, sih?

Ada kejadian menarik yang saya ingat seputar kasus Gus Roy ini. Kebetulan waktu itu saya tinggal di Jepang. Saat salat Jumat, imam salat yang orang Arab, membaca qunut nazilah. Doanya panjang, tentang Palestina. Meski tak fasih, saya mengerti bahasa Arab. Saya paham isi doa itu, berupa keluhan pada Allah akan nasib orang Islam kini.

Saya bisa memastikan bahwa doa itu bukan bacaan salat standar. Juga tidak 100% berasal dari doa-doa yang bersumber dari Quran dan hadist. Sebagian darinya adalah kata-kata yang ia susun sendiri.

Kenapa boleh? Karena ia orang Arab, doanya pakai bahasa Arab. Nabi Muhammad orang Arab, maka ia salat pakai bahasa Arab. Artinya, ia salat pakai bahasa dia sendiri. Kenapa kita tidak boleh pakai bahasa kita sendiri?

Tapi itu soal fiqh, biarlah para ulama yang memperdebatkannya. Soal kita adalah, pasal penodaan agama ini. Pasal ini adalah salah satu pasal karet. Kenapa orang dituduh menghina agama? Karena ia membuat sejumlah orang marah. Jadi, hukum ditentukan berdasar reaksi orang. Kalau tak ada yang marah, tak ada kasus hukum.

Reaksi itu tentu relatif. Sekelompok orang minoritas tentu tak berani marah, meski agama mereka dilecehkan secara terbuka. Maka, tak ada kasus penodaan agama. Sementara, kelompok mayoritas bisa marah dengan garang hanya oleh soal sepele.

Di mana masalahnya? Pertama pada masalah hukum, yaitu pasal tadi. Pasal ini pernah diajukan ke MK untuk dihapus. Tapi MK di bawah pimpinan Mahfud MD, menolak untuk menghapusnya. Entah kenapa.

Masalah kedua, adalah keadilan kita sejak dalam pikiran. Kemauan kita untuk berpikir lebih panjang tentang substansi sesuatu dalam soal agama. Alih-alih berpikir, kita lebih sering memakai emosi dalam beragama.

catatan Kang Hasan

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s