Islam adalah agama yang bertumpu pada keadilan dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang menjunjung tingggi pada pembelaan terhadap orang/kelompok yang menjadi korban persekongkolan elit. Islam adalah agama yang pro terhadap kelompok tertindas. Islam adalah agama yang memperjuangkan kelompok minoritas, baik minoritas politik, etnis, ekonomi, maupun agama, yang menjadi korban kejahatan sindikat elit.

Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi bertebaran mengenai pentingnya memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan di masyarakat.

Kenapa Islam adalah agama yang pro-keadilan dan kemanusiaan serta anti terhadap penindasan dan diskriminasi? Jawabnya karena Islam adalah “agama rakyat”, “agama wong cilik”, agama yang merepresentasikan kelompok-kelompok minoritas yang tertindas dan dizalimi oleh sistem politik-ekonomi Makah pada waktu itu di abad ke-6/7 M yang sangat elitis, korup, hegemonik, dan sektarian. Islam lahir “dari bawah”, bukan “dari atas” (kaum bangsawan atau kerajaan).

Nabi Muhammad bukanlah Siddhartha Gautama (Gautama Buddha) atau Confucius yang berasal dari kelompok elit masyarakat dan kaum cerdik-pandai (filosof, pendidik, politisi, sastrawan, dlsb). Nabi Muhammad adalah orang miskin yatim-piatu. Meskipun Nabi Muhammad berasal dari keluarga yang cukup terhormat dari sisi keagamaan dan spiritualitas, tetapi ia tidak memiliki otoritas politik-ekonomi memadai sehingga selalu menjadi bulan-bulanan para elit politik dan penguasa ekonomi Makah.

Nabi Muhammad dimusuhi oleh para penggede Makah dan elit sontoloyo itu sejatinya bukan karena ia telah “menawarkan Tuhan baru” tetapi lebih pada karena ia membawa dan menawarkan ajaran agama (Islam) yang bertumpu pada doktrin persamaan (egalitarianisme), keadilan, dan kemanusiaan, yang dipandang bisa membahayakan sistem, tatanan, dan sendi-sendi politik-ekonomi yang mereka kuasai selama ini.

Kaum elit politik-ekonomi Makah waktu itu (dan dimana saja pada umumnya) adalah “kaum oportunis-pragmatis” yang tidak mempedulikan agama dan sistem teologi apapun sepanjang bisa diajak kompromi dan membawa keuntungan. Nah, sayangnya ajaran-ajaran Islam itu tidak pro-elit tetapi pro-rakyat bawah sehingga harus dimusnahkan.

Demikianlah Nabi Muhammad dan para pengikut awal Islam di Makah selalu menjadi bulan-bulanan sindikat elit politik-ekonomi-agama: dikejar-kejar, diteror, difitnah, dicaci-maki, diancam bunuh sampai mengungsi ke Abyssinia (Ethiopia) dan Yatsrib (Madinah).

Situasi yang dialami oleh Nabi Muhammad pada abad ke-7 M itu persis menimpa pada diri Ahok di abad ke-21 sekarang. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga dicaci-maki, difitnah, didiskriminasi, diteror, dan diancam bunuh. Seperti Nabi Muhammad, Ahok juga menjadi korban sindikat kaum elit politik, ekonomi, dan agama, yang merasa terancam dengan kehadiran Ahok: terancam karir politiknya (bagi politisi), terancam bisnisnya (bagi pengusaha), serta terancam sulit mengembangkan jenis keislaman konservatif-radikal (bagi “elit Islamis”).

Apakah sejumlah ormas Islam tengil yang hobi memobilisasi massa untuk demo dengan mengatasnamakan Islam itu betul-betul membela Islam karena agama ini “telah dinistakan” misalnya? Jelas tidak. Buktinya, mereka tidak pernah mendemo Rizieq Shihab dan gerombolannya, meskipun mereka telah berkali-kali menghina, melecehkan, dan merendahkan martabat Islam sebagai agama yang mulia, dengan perkataan dan tindakan mereka yang bahlul, intoleran, rasis, dan penuh kekerasan. Apakah asi-aksi mereka demi membela Ulama? Juga tidak. Sudah berapa kali mereka menghina dan melecehkan ulama tapi tidak ada yang memobilisasi massa untuk demo.

Jadi, membela Ahok jelas sama dengan membela Islam karena agama ini sangat menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan serta anti-diskriminasi, anti-ketidakadilan, dan berbagai perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

catatan Sumanto Al Qurtuby

Iklan