Waktu Ahok keceplos ngomong soal Al-Maidah tahun lalu, saya bilang itu blunder maha besar. Saya tidak salah.

Bagi seorang politikus, menjadi orosinil itu tidak penting. Yang penting, memenangkan hati rakyat. Toh, bisa saja orang memenangkan hati rakyat dengan menjaga tetap orisinil, pada kadar tertentu.

Sepanjang masa jabatannya, saya sering mengritik komunikasi politik Ahok, karena tiidak produktif. Celakanya saya, kalau saya menulis kritik tentang Ahok sekarang, saya dituduh menjilat Anies, hahahaha. Asu tenan.

Waktu mencuat kasus pelacuran di Apartemen Kalibata, Ahok cuap-cuap dengan gagasan soal legalisasi pelacuran. Kontan banyak yang protes. Orang tentu boleh berdebat soal positif negatifnya. Biasa saja itu. Tapi, bagi Ahok, itu soal meraih dukungan atau tidak.

Bicara soal itu di Jakarta, besar kemungkinan tidak akan didukung. Padahal, isu itu juga tidak urgen untuk dibahas, dan Ahok juga tidak akan serius mengeksekusi gagasan itu. Hasilnya, satu label melekat di Ahok: pro pelacuran.

Demikian pula soal bir. Sudah sejak zaman dulu Pemda DKI punya saham di pabrik bir. Ahok cuap-cuap soal itu. Pentingnya? Tidak ada. Sahamnya tidak besar, dan tidak sedang jadi masalah. Gubernur sebelumnya tutup mulut soal itu, dan aman. Ahok cuap-cuap, label berikutnya didapat: Ahok pro miras.

Soal Al-Maidah, posisi Ahok waktu itu unggul. Iyalah, kalau tidak unggul, PDIP tidak akan mau mendukung. Tapi Ahok belum cukup PD. Ia gusar dengan orang-orang yang memainkan ayat itu. Maka berulang kali dia ngomong soal itu. Mungkin dia trauma dengan kekalahan dia di Bangka Belitung.

Satu hal penting sudah diciptakan Ahok. Ia menjadikan dirinya musuh bersama bagi berbagai kekuatan Islam radikal. Kelompok-kelompok yang tadinya cakar-cakaran, bersatu dalam satu semangat anti-Ahok, sang penista agama.

Biaya yang dibayar oleh ceplosan Ahok, teramat mahal.

Mungkin ada yang bilang, tak apa tidak jadi gubernur (lagi) yang penting telah menyatakan kebenaran. Lha, kalau tak jadi gubernur (lagi) tak masalah, apa pula perlunya Ahok cuap-suap soal Al-Maidah waktu itu? Mau mendakwahi umat Islam?

Hal besar, yaitu membangun DKI dengan prinsipnya, jadi pupus, karena Ahok tidak bisa jaga mulut.

Pilkada sudah usai. Ahok sudah kalah. Hal penting, dalam dunia manapun, komunikasi itu penting. Komunikasi oleh pengamat, berbeda dengan komunukasi oleh politikus. Sebagai pemain, lebih penting untuk memastikan kemenangan, ketimbang main sangat bersih.

Bahkan Maradona pun mencetak gol pakai tangan. Orang mengenang kecurangan itu. Tapi orang lebih mengenang bahwa Argentina juara dunia di tahun 1986.

catatan Kang Hasan

5 Artikel terakhir di BlogĀ Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan