“Dibonsai berarti dikerdilkan,” kata kang mas Akhlis Suryapati. Pohon atau tanaman yang di alam bebas tumbuh besar, rindang, dan kokoh, dikerdilkan dalam pot dangkal supaya jadi miniatur dari bentuk asli.

Nah, peringatan Hari Kartini saat ini dan yang lalu-lalu selalu saja mengalami pembonsaian semacam itu! Gagasan-gagasan Kartini (yang melampaui zamannya kala itu) kini dibonsai menjadi sekadar soal emansipasi — soal kesetaraan, padahal di negara yang sering diejek, dicemooh, di-cuih-in oleh bangsanya ini, pernah lahir Presiden Wanita! Amerika saja sepanjang negara itu berdiri gak pernah memiliki Presiden Wanita dan mereka mengaku sebagai Negara paling demokratis se-Galaksi Bima Sakti. Dan, kalian masih membicarakan emansipasi?

Dibonsai berarti dikerdilkan. Dan, tak ada yang lebih kerdil daripada upaya-upaya menyederhanakan, mereduksi gagasan-gagasan Kartini menjadi perayaan remeh-temeh memakai kostum daerah; perempuan memakai kebaya, lelaki memakai batik atau pakaian adat. Dan, kalian masih saja mengutip-ngutip “Habis Gelap Terbitlah Terang” tanpa pernah membuka buku itu sama sekali, apalagi membacanya.

Kartini telah, dan selalu saja dibonsai!

catatan Shandy Gasella

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan