Memulai Perang dengan HOAX? Siapa Lagi Kalo Bukan Amerika Serikat?

Bagaimana Irak dihancurkan? Amerika dan sekutunya menyebutkan Saddam memikiki senjata pemusnah masal. Dengan alasan itulah mereka menyerbu Irak. Meluluhlantakan sebuah negara. Menyeret Saddam Husein dari lubang persembunyian. Lalu mengadilinya sampai mati.

Aksi ini disokong oleh pemberitaan media-media raksasa untuk menggalang opini. Bileh dibikang isu senjata pemusnah masal Irak adalah hoax yang memakan korban jutaan orang. Inilah hoax yang sengaja dirancang untuk menghanncurkan sebuab negara.

Sampai akhir perang selesai senjata pemusnah massal tidak pernah ditemukan di Irak. Tapi jutaan rakyat Irak telah jadi korban. Anak-anak mati. Perempuan mati. Mayat pria tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Infrastruktur dan kehidupan hancur.

“Ada kesalahan data intelejen,” ujar seorang pejabat AS, mengomentari tidak ditemukannya senjata pemusnah masal di Irak. Tapi sebuah negeri sudah hancur.

Sebuah buku yang ditulis jurnalis radio Amy Goodman dan David Goodman menguak latar belakang serangan itu. Dengan perang itu perusahaan multi nasional AS meraup untung. Kontrak pembangunan kembali Irak pasca kehancuran dijadikan bancakan perusahaan-perusahaan raksasa. Mereka berpesta setelah negeri itu porak-poranda. Uang pembayarannya diambil dari hasil penjualan minyak.

Jadi untuk mendapatkan pekerjaan pembangunan langkah pertama adalah menghancurkan. Itulah mengapa perusahaan-perusahaan raksasa AS bekerjasama dengan politisi menyokong baksi brutal George W. Bush.

Sekarang Irak tidak kunjung bangkit. Konflik horisontal terus terjadi. Disana bercokol para jihadis dari bberbagai kelompok ekstrim termasuk ISIS. Kemakmuran dan keamanan rakyat Irak jauh merosot.

Kini di depan mata kita saksikan lagi ulah Amerika Serikat. Mereka baru saja melakukan serangan terbuka menghantam Suriah dengan misil Tomhawk. Apa alasannya? Karena pemerintah Suriah menggunakan gas beracun untuk memerangi pemberontak. Kita tahu mikiter Suriah memang sedang berhadapan dengan para jihadis dan pemberontak. Termasuk kekuatan ISIS.

Pemberitaan tentang serangan ini ditulis oleh wartawan New York Time. Tapi wartawan itu berbasis di Beirut, buka di Suriah. Sayangnya tanpa verifikasi lapangan mereka langsung menuduh Bashar Asaad bertanggungjawab atas serangan itu.

Setelah aksi biadab AS, Saudi Arabia, Turki, Isreal dan sekutunya menyatakan dukungan pada AS. Sebuah dukungan terhadap ekspansi militer negara lain yang masuk ke negara berdaulat. Negara pendukung AS itu sejak awal bermusuhan dengan Asaad.

Sudah jadi rahasia umum selama ini AS, Saudi, Isarel dan Turki adakah penyokong para jihadis, termasuk ISIS dan kekuatan pemberontak melawan Bashar Asaad. Belakangan posisi Asaad sudah di atas angin. Para pemberontak dan mahluk barbar sejenis ISIS makin terdesak.

Lalu terjadilah insiden gas beracun itu. Yang jadi pertanyaan, buat apa Asaad menggunakan gas beracun untuk menyerang negerinya sendiri? Bukankah tindakan itu justru akan melahirkan kecaman internasional, padahal posisi tentara pemerintah kini tinggal diambang kemenangan?

Jika Asaad menggunakan senjata kimia malah akan merugikan posisinya. Itu sama saja dengan bunuh diri diplomatik. Jadi adalah keanehan jika tuduhan penggunaan senjata kimia tersebut ditudingkan kepada Asaad.

Mungkin AS gregetan. Gagalnya para pemberontak dan jihadis barbar yang mereka dukung untuk mengalahkan Asaad, membuat negara cukong perang itu gatal tangannya untuk turun langsung ke kancah pertempuran. AS butuh alasan untuk aksinya. Tidak perlu masuk akal. Sama seperti isu senjata kimia di Irak.

Janji kampanye Trump bahwa AS tidak akan banyak ikut campur urusan ku negeri Suriah ternyata bohong. Negeri itu seperti kena kutukan. Siapa saja Presidennya, maka tangannya akan berlumurah darah.

Dengan serangan itu Trump seperti hendak meredam gejolak di dalam negeri yang memposisikan kedekatannya dengan Rusia. “Tuh, lihat. Gue berani nyerang sekutu Rusia.”

Tentu saja sorakan tepuk tangan atas serangan AS ini juga digemakan oleh para pendukung Jihadis di tanah air. Mereka menggemborkan Asaad menggunakan senjata kimia, persis seperti yang menjadi alasan AS. Mungkin ditambah dengan embel-embel muslim Suni diserang dengan senjata beracun oleh Syiah. Kloplah pertemuan kepentingannya.

Mungkin sebentar lagi para cecurut pendukung ISIS di Indonesia akan menggelar donasi untuk membantu kaum barbar di Suriah yang kembali mendapat angin dengan bantuan AS. Mereka mengumpulkan sumbangan dari Indonesia untuk menyokong para pemberontak.

Dengan mengeksploitasi gambar anak-anak Suriah yang menderita, mereka mengirim bantuan untuk para jihadis. Agar semakin banyak anak-anak Suriah yang mati bergelimpangan di negeri malang itu.

Dengan kata lain, mereka mungkin saja menggunakan berita hoax yang dijejalkan pada publik Indonesia. Dari AS lah mereka berguru bagaimana cara memainkan hoax untuk tujuan yang lebih keji.

Di jaman yang memuakkan ini, hoax telah merampas jutaan hak hidup anak-anak.

catatan Eko Kuntadhi

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s