Orang Indonesia memang Antik!

(Sebagian) warga Indonesia itu memang antik. Bagaimana tidak? Mereka bela-belain “produk-produk” impor (orang, barang, ormas, agama, dlsb) tetapi malah mencaci-maki produk-produk lokal dalam negeri.

Agama-agama impor dijunjung tinggi, agama-agama lokal malah dimaki-maki; para tokoh agama impor dipuja-puji, para tokoh agama lokal malah dicaci-maki; ormas-ormas Islam impor dibela mati-matian, ormas-ormas Islam lokal malah diserang mati-matian; negara-negara asing dipuja, negara sendiri malah dicela; kepala negara negara lain disanjung, kepala negara negara sendiri malah dilecehkan; bendera-bendera negara lain dielu-elukan, bendera negara sendiri malah dihinakan; tradisi dan budaya bangsa lain dipraktekkan, tradisi dan budaya bangsa sendiri malah dibuang-buang dan direndahkan; busana bangsa lain dikagumi, busana bangsa sendiri malah dicampakkan. Begitu seterusnya.

Pokoknya kalau “barang impor” dianggap lebih yahud (tanpa “i”) karena itu mereka rela “buletekle” mati-matian membelanya tak peduli kualitas “barang” tadi berkualitas atau sudah “rongsokan”. Contohnya Hizbut Tahir, barang rongsokan pengusung Khilafah yang tidak laku di negara tempat kelahirannya, Palestina, dan dilarang dimana-mana termasuk di negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim, malah egal-egol berkeliaran di Indonesia. Begitu pula dengan Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, dlsb, juga lumayan laku di Indonesia.

Sekarang yang lagi hits di Indonesia adalah Pak Dokter Zakir Naik, padahal menjadi buron di negaranya. Kolegaku, seorang sarjana Muslim dari India, tertawa terkekeh-kekeh mendengar orang-orang Muslim di Indonesia memuja-muji Pak Dokter yang merangkap menjadi penceramah dan evangelis itu.

Tentu saja baik-baik saja, sah-sah saja, dan tidak ada salahnya kalau mau menyanjung-nyanjung “produk-produk” impor tetapi jangan sampai menghinadinakan “produk-produk” lokal dalam negeri. Justru produk-produk lokal itu mestinya harus lebih dihargai dan dijunjung tinggi. Kalau tidak bisa menghargai dan menjunjung tinggi, minimal jangan memaki-maki, mengafirsesatkan, mengbidahkan, dlsb.

Padahal, kalau mau jujur, produk dalam negeri itu jauh lebih aduhai ketimbang produk impor. Contoh kecil saja: bandingkan antara Dr. Zakir Naik dengan Dr. Naek L. Tobing. Sama-sama dokter: yang satu “produk impor” dari “Bollywood”, satunya “produk lokal” dari “Baliwood” he he. Tetapi, menurutku, Dr. Naek lebih cespleng daripada Dr. Naik karena Dr. Naek bisa membuat Dr. Naik jadi naik tetapi Dr. Naik tidak bisa membuat Dr. Naek jadi naik he he.

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s