Mentang-Mentang Islam…

Di Padang akan digelar Aksi Bela Islam, yang salah satu tuntutannnya adalah menutup tempat krematorium atau tempat pembakaran jenazah. Tentu saja tempat itu bukan untuk membakar jenazah muslim. Ada banyak warga Tionghoa disana.

Alasannya karena pembakaran jenazah menganggu penduduk sekitar. Ini jelas aneh, sebab krematorium melakukan pembakaran jenazah bukan dengan cara tradisional. Tapi menggunakan semacam oven tertutup bersuhu tinggi. Proses pembakaran tidak akan menganggu orang di sekitarnya.

Kenapa ada tuntutan dari demonstran agar krematorium ditutup? Kita tahu alasan sebenarnya. Mereka tidak suka ada umat agama lain menjalankan keyakinannya.

Mentang-mentang Islam agama mayoritas. Mereka hendak memberangus siapapun yang dianggap berbeda.

Apa yang dilakukan di Padang, sama dengan yang dipekikkan orang di Bekasi kemarin. Proses pembangunan gereja Santa Clara sudah sesuai hukum. Surat ijin sudah ditangan.

Tapi sekelompok orang tetap saja berusaha menggagalkan pembangunan gereja. Alasanya cuma satu : mentang-mentang Islam.

Di Tanjung Balai Asahan juga sekelompok masa menurunkan patung di atas Vihara. Ini lagi-lagi kelakuan mereka yang intoleran. Mentang-mentang Islam.

Sama seperti konvoi motor di Jakarta dengan membawa bendera besar bertuliskan arab. Cukup pakai kopiah putih dan baju koko. Tidak perlu gunakan helm.

Mentang-mentang Islam.

Sebetulnya ini hampir sama dengan para teroris. Seorang di Kalimantan mendatangi gereja. Dia melempar bom molotov yang membakar anak-anak jemaat gereja.

Kenapa? Mentang-mentang Islam.

Zakir Naik diundang. Dia bebas bicara tentang kitab suci agama lain. Tentu saja sambil menyalah-nyalahkan. Apakah penganut agama lain tersinggung atau tidak, itu gak perlu difikirkan.

Mentang-mentang Islam.

Di tangan orang-orang pekok Islam jadi agama mentang-mentang. Agama yang bisa berbuat apa saja. Bisa mengusir siapa saja yang dianggap berbeda.

Belakangan saya makin sering menemukan wajah Islam yang dihadirkan tanpa empati. Tanpa tepa selira. Oleh mereka Islam ditampilkan sebagai momok yang menakutkan.

Siapapun yang dianggap berbeda akan dituding kafir atau munafik. Siapapun yang berbeda pendapat akan dituduh musuh agama.

“Mendingan gue, mentang-mentang Islam. Daripada lu, mentang-mentang ganteng,” seorang teman tersinggung dengan omongan saya.

“Hus!, seorang muslim dilarang berbohong,” teman lain menegurnya. Sepertinya teman yang ini berusaha membela saya.

Tapi kok, setelah dibelain, perasaan saya jadi gak enak, ya?

catatan Eko Kuntadhi

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s