Maaf… Tapi Indonesia TIDAK BUTUH seorang Zakir Naik!!

Jamaah awam agama² Indonesia itu saya nilai doyan dan mudah getun alias gumunan, selera takjuban, dan terperangkap pop culture. Juga sangat mudah terpedaya dengan yang terlihat agamis, simbolistik dan retorik. Sekalipun ilusi dan destruktif. Itu diidap oleh jamaah Kristen, apalagi Islam. Persis awal² saya belajar alif-ba al-Qur’an..

Hari ini umat Islam terpesona pada Zakir Naik. Pendakwah asal India itu. Dia sangat baik menguasai Kristologi, ilmu terkait doktrin, ajaran dan keagamaan Kristen. Saya coba pelajari orasi dan panggungnya di youtube. Saya ingat pembimbing Kristologiku, Kiai Abdullah Wasian. Bolehlah sebagai ilmu dan kemampuan teknis dipelajari. Tapi….

Saya udah capek menjadikan agama sebagai arena ketegangan, alat pemukul, sarana penindas dan disharmonisasi. Lelah saya lihat air mata duka, tangis kecewa dan dendam membara. Capek saya lihat darah, nyawa tak berdosa, barang porak poranda dan peradaban luluh lantak. Sampai kapan agama ditunggang,dikapitalisasi dan diperalat oleh pengimannya?oleh tokohnya?memperdaya jamaahnya?

Kebhinekaan itu takdir. Kita butuh relasi sehat dan harmonis. Zakir Naik itu lebih dekat pada provokator. Budaya lokal dan tradisi keagamaan itu indah. Zakir berpikir model Wahabisme. Alergi budaya lokal dan literalistik. Retorika membanding²kan agama itu tak sehat dan menyakitkan. Kita butuh agama yang ramah perbedaan dan cinta kebhinekaan. Hidayah kita jemput tanpa perlu mengagitasi dan memprovokasi. Lebih² penuh ujaran kebencian dan permusuhan.

Yang terbaik sinergi kaum beragama. Mari kita atasi problem riil kehidupan. Ketidakadilan, kemiskinan,narkoba, neo kapitalisme, liberalisme ekonomi, illegal loging, kekerasan politik, buta moral dsb. Kok mau²nya memelihara kesumat Perang Salib. Kok mau²nya rebutan surga. Kok mau²nya diadu domba.

Apa bangganya memasukkan banyak non muslim ke Islam bila nantinya sekadar jd burung beo syahadatain?Bolehlah bila beragama level kompensasi surga ala “pengantin” jihadis. Demi 72 bidadari. Tapi mbok naik ke level Rabiatul Adawiyah kek! Lagian ini abad 21 kok semangat Salib dipertahankan? Sebegitu naifkah kalian. Di Amerika & Eropa kaum Kristen pasanga badan untuk umat Islam dari provokator ala Zakir itu. D Tepi Barat Yahudi & Nasrani jadi tameng bagi muslim dari Zionis. Kok kalian terpesona Zakir?!

Kita butuh pendakwah yang merangkul non muslim. Hentikan segregasi dan pengkelasduaan non Islam. Jangan kesankan agama sebagai alat rasisme dan diskriminasi. Kita butuh missionaris yang menyatukan rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita.

Pasca Cak Nur dan Gus Dur kita butuh Gus Mus, Buya Syafii, Cak Nun, Mbah Maimoen, Dalai Lama, Romo Magnis, Pendeta Yewango, Bikkhu Jayamedo, Haksu Chandra dsb. Kitalah yang mengajar dunia dengan agama damai dan harmonis. Kitalah yang mendidik dunia dengan agama dialogis dan penuh aura kebangsaan dan kemanusiaan. Bukan sebalikya.

Kita butuh dialog agama. Dialog pemuka agama dan kerjasama lintas agama.

catatan Mohammad Monib

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s