Peran Etnis Tionghoa dalam Kemerdekaan Indonesia

Banyak hoax dan desas-desus berseliweran belakangan ini yang mengatakan bahwa Tionghoa adalah “penghianat” bangsa, sedang Arab adalah “pejuang” pembela Tanah Air dan kemerdekaan RI. Orang kalau sudah “ngaceng” memang otaknya sering eror.

Orang kalau sudah “ngeden” ingin menang dan berkuasa, sering melakukan tindakan bahlul ala Mamat, yang penting jagonya menang. Karena “Si Arab” akan bertarung melawan “Si Cina”, maka pendukung Anies melakukan berbagai macam cara untuk mengebiri dan menjungkalkan Ahok: dari isu tentang aseng, kapir, non-pribumi, sampai upaya penghapusan peran sentral Tionghoa dalam panggung sejarah Indonesia.

Fanatik boleh-boleh saja tapi bego jangan sampai “diformalin” nanti awet unyunya. Baik Arab, Tionghoa, dan etnis-etnis lain di Indonesia memiliki peran dan andil yang sama: ada yang baik, ada yang gemblung. Ada yang pro-kolonial, ada pula yang anti-kolonial.

Jangankan Arab, Tionghoa, Jawa, dlsb, orang Belanda sendiri ada yang anti-penjajahan kolonialisme Belanda. Semua kembali kepada masing-masing individu, tidak ada kaitannya dengan identitas etnik: China, Arab, Jawa, Betawi, Ambon, dlsb.

Bahwa ada orang-orang Tionghoa yang “pro-Belanda” memang ya, sama seperti orang Arab, Jawa dan lainnya, juga banyak yang menjadi “auliya” Belanda.

Cukup banyak buku yang mengupas tentang kontribusi positif Tionghoa bagi kemerdekaan RI, antara lain yang ditulis oleh Pak Leo Suryadinata, “Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia”.

Di antara para tokoh Tionghoa ternama yang gigih berjuang membela Tanah Air dan berjasa mengantarkan kemerdekaan RI serta ikut membangun fondasi kenegaraan dan kebangsaan adalah John Lie, Djiaw Kie Song, Lie Ceng Oek, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Yap Tjwan Bing, Lie Eng Hok, Tan Kho Lim, Oei Hok San, dan masih banyak lagi silakan cari sendiri, capek dan susah nulis nama-namanya he he.

Jadi sodara-sodari, ikhwan-ikhwat jamaah Mamat yang berbahagia, silakan mendukung idolamu Anies sesuka hatimu tetapi harus tetap menggunakan akal-pikiran waras dan hati-runani jernih (itu kalau kalian masih punya sisa-sisa akal-pikiran dan hati-nurani lo ya? he he). Jangan suka “main sara” (emang Sara mau dimainin? he he).

Juga, kalau mendukung paslon idolamu slow saja, toh kalaupun jadi kalian nanti tetep saja gak dapat apa-apa he he. Ingat: “Pilkada” itu kalau jadi lupa. Ini beda dengan “Pilkabe”: kalau lupa jadi he he. Oleh karena itu, saranku, kalian tidak perlu sepaneng, overdosis, ngamuk, dan tegang meskipun kita semua lahir dari buah ketegangan he he.

catatan Sumanto AL Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s