Hijrah: Komunitas LGBT di Asia Selatan

Anda pernah dengar kata “hijrah”? Tentu saja sudah ya? Masak belum sih he he. Kata yang berakar dari bahasa Arab-Semitik ini semula bermakna “pindah, meninggalkan, migrasi, kabur”. Tetapi, dalam implementasinnya, kata ini mempunyai banyak makna. Ada yang memakai untuk seseorang yang meninggalkan sukunya karena alasan / faktor tertentu. Kata “hijrah” ini menjadi populer karena dipakai dalam sistem penanggalan oleh kaum Muslim sehingga menjadi “merk” identitas Islam.

Dalam sejarahnya, kata hijrah itu merujuk pada setidaknya dua peristiwa migrasi Nabi Muhammad dan para sahabat yang populer ke dua tempat, yaitu Abyssinia dan Yatsrib (Madinah). Hijrah Nabi dan rombongan ke Abyssinia (al-hijrah ila al-habasyah) dikenal sebagai “hijrah pertama” (sekitar 615-6 M). Abyssinia (Bahasa Arab: habasyah atau habasy) adalah kawasan yang kini di daerah Ethiopia dan Eritrea.

Dulu, Abyssinia adalah pusat Kerajaan Kristen Aksum yang sangat terkenal. Nabi Muhammad dan rombongan hijrah ke Kerajaan Aksum untuk mencari perlindungan karena dikejar-kejar hendak dibunuh oleh para suku Arab-Quraisy yang berkuasa di Makah. Mereka pun disambut dengan sangat baik dan dilindungi oleh Raja Aksum dan elit politik kerajaan tersebut.

Dalam literatur-literatur Islam yang kemudian populer di kalangan kaum Muslim, Raja Aksum yang melindungi Nabi Muhammad dan para sahabat itu disebut Negus (Bahasa Arab: “Najasyi”). Padahal, kata “Negus” ini adalah sebutan atau gelar raja dalam bahasa Ethiopia-Semitik, bukan nama person/orang.

Sama seperti “Fir’aun” yang juga nama gelar seorang raja di Mesir Kuno, Negus juga gelar seorang penguasa politik-pemerintahan di Ethiopia Kuno (seperti raja, monarch, emperor, sultan, king, dlsb). Baik Fir’aun maupun Negus sama-sama disalahpahami di kalangan kaum Muslim. Para sejarawan mengidentifikasi nama Raja Ethiopia (Negus) yang melindungi Nabi Muhammad itu bernama Armah atau Ashama ibn-Abjar.

Karena kebaikan hati Negus Abyssinia, kelak Nabi Muhammad berteman baik dengan raja dan petinggi Kristen Abyssinia dan memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik dan melindungi umat Kristen Kerajaan Aksum.

Peristiwa hijrah kedua adalah boyongan Nabi, keluarga, kerabat, dan sahabat dari Makah ke Madinah (dulu bernama Yastrib) sekitar 622 M. Alasannya juga sama karena dikejar-kejar mau dihabisi oleh para petinggi suku Arab-Quraisy di Makah. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah ini menjadi awal penanggalan dalam sitem kalender Islam (Hijriyah).

Di Indonesia, kata “hijrah” ini dimaknai secara beragam. Ada yang menggunakan kata “hijrah” ini sebagai “pindah agama”: migrasi dari agama non-Islam ke agama Islam. Ungkapan populer: “Alhamdulilah sekarang saya sudah hijrah”, maksudnya sudah “pindah menjadi Muslim”.

Ada juga yang menggunakan kata “hijrah” ini untuk menerangkan sebuah fenomena perpindahan dari “Islam nominal” atau “Islam KTP” ke jenis keislaman baru yang dianggap lebih “Islami”, “murni” dan “otentik”. Misalnya, Muslimah yang belum berhijab kemudian berhijab dikatakan “sudah hijrah”.

Yang lain lagi memakai kata “hijrah” untuk menerangkan perpindahan dari ormas atau kelompok Islam non-Salafi ke ormas / kelompok Islam Salafi (seperti HTI, FUI, dlsb).

komunitas LGBT “Hijrah”

Lain Arab dan Indonesia, lain pula di Asia Selatan. Di Asia Selatan seperti Pakistan, Hindia, dan Bangladesh, kata “hijrah” ini dipakai untuk komunitas transgender yang lahir sebagai “laki-laki” tapi kemudian “berubah” mengidentifikasi diri sebagai “perempuan” atau sebagai “bukan lelaki dan perempuan” (lihat foto). Populasi kaum hijrah ini lumayan besar di Pakistan, India, dan Bangladesh.

Menariknya, di kawasan ini, komunitas “hijrah” ini tidak dimusuhi dan dilecehkan oleh mayoritas karena diangap memiliki “orientasi seks menyimpang” misalnya atau dianggap “tak bermoral” oleh kelompok “sok moralis”. Oleh pemerintah setempat, mereka dianggap sebagai “jenis kelamin ketiga” (setelah laki-laki dan perempuan) yang eksistensinya sudah sangat kuno dan karena itu dilindungi oleh pemerintah, diberi hak yang sama sebagai warga negara, diberi suaka ksusus, dan dibimbing oleh para guru.

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s