Sejarah Kelam Wahabi & Ideologi Kekerasan yg Mereka Usung

Ideologi Wahabi adalah rujukan bagi seluruh kelompok radikal dalam Islam seperti ISIS, Al Qaedah, Thaliban, Boko Haram, FPI, PKS, HTI, FUI dan lain-lain. Untuk mengetahui perilaku, cara berpikir dan rencana kaum Wahabi di negeri ini ada baiknya kita melihat sejarah dan perkembangan Wahabi di negeri aslinya yaitu Arab Saudi. Kolaborasi politik dan agama memang sudah menjadi strategi yang mereka jalankan bahkan sejak di awal kelahiran mereka.

Artikel yang saya copas dari muslim moderat.net ini kiranya akan bisa membantu kita memahami tentang siapa mereka sebenarnya. Tidak dipungkiri lagi bahwa Wahabi adalah “bahaya laten” bagi NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika serta persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Ibnu Abd Wahab sendiri lahir pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, masuk daerah Najd yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia sekarang. Dalam perjalanan sejarahnya, Abdul Wahab, sang ayah harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut (as-sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-wahabiyah). (Abdurrahman Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62)

Pemikiran Wahabi yang keras dan kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-Qur’an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi, menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Dus, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.

Namun, ironisnya pemahaman keagamaan Wahabi ini ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir’iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid’ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita.

Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur’an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau’idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.

Tercatat dalam sejarah, Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya, dalam penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400 ribu umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik, termasuk anak-anak dan wanita. (Hamid Algar: Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafii, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi, 2010, hlm. 27). Di samping itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta rampasan perang.

Di sini, setidaknya kita melihat dua hal tipologi Wahabi yang senantiasa memaksakan kehendak pemikirannya. Pertama, ketika belum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis dengan menyerang siapapun yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka memiliki kekuatan fisik dan militer, tuduhan-tuduhan tersebut dilanjutkan dengan kekerasan fisik dengan cara amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan. Ironisnya, Wahabi ini menyebut yang apa yang dilakukannya sebagai dakwah dan amar maruf nahi mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam.

Membanjirnya buku-buku Wahabi di Toko Buku Gramedia, Toga Mas, dan sebagainya akhir-akhir ini, hemat saya, adalah merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh kaum Wahabi secara doktrinal, intelektual dan sekaligus psikologis terhadap umat Islam di Indonesia. Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini menilai bahwa cara efektif yang bisa dilakukan adalah dengan membid’ahkan, memurtadkan, memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berada di luar mereka. Jumlah mereka yang minoritas hanya memungkinkan mereka untuk melakukan jalan tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar untuk mereka.

Saya yakin seyakin-yakinnya jika suatu saat nanti kaum Wahabi di negeri ini memiliki kekuasaan yang berlebih dan kekuatan militer di negeri ini, mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama muslim yang tidak satu paham dengan mereka. Jika wong NU, jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas lain yang satu barisan dengan keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamien tidak mampu membentenginya, saya membayangkan Indonesia yang kelak menjadi Arab Saudi jilid kedua. Saya tidak dapat membayangkan betapa mirisnya jika para kiai dan ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian kaum Wahabi, terutama ketika mereka sedang berkuasa di negeri ini. Naudzubillah wa naudzubilah min dzalik.

Ideologi Kekerasan

Wahabi yang menjadi akar bagi semua gerakan radikalisme dan terorisme Islam menganut ideologi kekerasan dan kebencian. Kekerasan dimulai dari pikiran yaitu menganggap semua yang di luar pemahamannya adalah salah, sesat, kafir. Ini disebut kekerasan mental, doktrinal dan psikologis.

Level kekerasan berikutnya termanifestasi dan diwujudkan melalui perkataan. Mereka tidak segan menuding dan memaki orang yang berbeda pendapat dengannya sebutan sesat, munafik, murtad, kafir, iblis, jahanam bahkan ucapan “halal darahnya”. Ini disebut kekerasan verbal dan kekerasan komunikasi sosial.

Yang terakhir, apabila jumlah mereka sudah cukup banyak dan memiliki kekuatan yang bisa diandalkan seperti sarana fisik dan militer maka mereka cenderung akan melakukan kekerasan melalui aksi, tindakan dan perbuatan. Inilah yang disebut kekerasan yang sesungguhnya.

Saat ini kaum Wahabi tumbuh subur di Indonesia. Mereka menganut ideologi tertutup yang anti kritik dan “tidak mungkin salah” (merasa sebagai pihak yang paling sempurna, tidak peduli sesalah apapun itu menurut orang lain).

Mereka adalah kaum penyembah tulisan dan pemuja ego serta logika otak kiri dan memahami segala sesuatu hanya secara textbook dan harfiah berdasar tafsiran pemimpin2 mereka saja. Bagi mereka sains, filsafat, seni, budaya, spiritualisme dan metafisika adalah sesuatu yang sesat karena tidak tertulis di kitab ajaran mereka.

Saat mereka menguasai negara maka semua warisan budaya bangsa tersebut akan dihancurkan karena dianggap sebagai sesuatu hal yang salah. Mesir, Babilonia dan Assyiria dahulunya adalah sebuah bangsa yang besar dengan peradaban yang maju. Namun semua itu hancur saat ideologi Wahabi mencengkeram dan menguasai wilayah2 tersebur.

Mereka juga suka memaksakan kehendak dan anti perbedaan. Tujuan utama mereka adalah bahwa hanya boleh ada satu golongan manusia di muka bumi yaitu golongan mereka saja. Golongan yang lain harus tumpas dan musnah.

Wahabisme meskipun selalu membawa-bawa nama Tuhan dan agama dalam propagandanya namun secara esensi ideologi tersebut tidak lebih baik bahkan sama saja dengan ideologinya NAZI Hitler, Komunismenya Stalin dan Mao serta Fasismenya Mussolini.

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

One comment

  • Tunjukkan lah mana ajaran wahabi yg bertentangan dengan agama islam. Saya ingin tahu, krn wahabi itu mengikuti ajaran rasulullah dgn taat.

    Suka

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s