Raja Salman ke Indonesia bukan untuk Tour dan Bagi² Sedekah!

Raja Salman datang membawa rombongan besar. Di dalamnya ada 10 orang menteri dan 25 Pangeran. Total rombongan berjumlah 1500 orang. 

Kita tahu agenda penting yang dibawa raja Salman adalah kerjasama ekonomi. Selain mensukseskan IPO Aramco juga mencari ladang investasi baru. Katanya, bakal ada komitmen investasi lumayan besar dar Saudi kali ini.

17021448_723033907856715_2216632380447626798_n

Seperti layaknya investasi, pasti mau cari untung. Jadi gak ada hubungannya dengan agama.

Tahun lalu, realisasi investasi Saudi cuma Rp 11 miliar. Jumlah ini jauh di bawah biaya aksi 212 yang kabarnya mencapai Rp 100 miliar. Duit segitu, artinya cuma secuil bagi bangsa Indonesia.

Kalau kali ini Saudi mau investasi agak besar, itu wajar. Indonesia salah satu negara terseksi di dunia dari sisi ekonomi. Pertumbuhan kita termasuk paling tinggi di dunia.

Lalu apa artinya kehadiran 25 orang pangeran dalam rombongannya?

Sekali lagi ini bukan tour keluarga. Ini adalah muhibah ekonomi. Kehadiran 25 pangeran itu bisa dibaca bahwa mereka itulah para penguasa ekonomi Saudi. Kekayaan negara hanya berputar di kalangan keluarga kerajaan saja.

Jadi kalau yang diajak adalah 25 pangeran, karena memang duit dan kekuasaan di Saudi hanya berputar disitu-situ saja. Hanya melingkupi klan Bani Saud. Sampai saat ini tidak ada kebijakan politik Saudi yang berniat untuk mendistribusi kekuasaan dan kekayaan kepada lingkungan yang lebih besar.

Jadi sekali lagi. Kedatangan raja Salman ini bisa dimaknai semata hanya untuk kepentingam ekomomi. Tepatnya untuk kepentingan ekonomi Saudi. Lebih jelasnya untuk kepentingan ekonomi dan kekuasaan klan Bani Saud.

Rakyat Saudi mah, sekarang lagi menjerit. Gaji PNS dipotong. Subsidi BBM, air dan listrik dicabut. Bahan pangan semakin mahal. Negara mencari utangan untuk menutupi devisit.

Apalagi kalau kita mau ngomong soal nasib umat Islam dunia. Jutaan anak-anak di Yaman kini keaparan, karena negerinya diinvasi tentara Saudi.

Kata teman saya, biar bagaimanapun Raja Salman adalah pelayan dua kota suci : Mekkah dan Madinah. Pelayan dua kota Nabi.

Lho, bukannya kebalik? Justru dua kota Nabi itulah yang selama ini menyusui kekuasaan Bani Saud. Berapa devisa yang dibawa jemaah haji dan umroh setiap tahunnya? Berapa pendapatan yang masuk dari aktifitas ibadah umat Islam di sana. Apalagi biaya kepengurusan visa haji dan umroh juga mau dinaikan.

Jadi bukan mereka yang berkorban melayani dua kota Nabi. Seperti yang digembar-gemborkn spesies dengkul.
Justru Nabilah yang selama ini memberi makan mereka. Sebab orang datang ke Mekkah dan Madinah karena mau menapaktilasi perjalanan Nabi. Bukan mau wisata bertemu kekuarga Bani Saud.

Sayangnya limpahan kekayaan dari tamu-tamu Nabi itu hanya berputar di satu keluarga saja. Dan sampai saat ini tamu yang luka dan tewas tertimpa crane di Mekkah tidak dibayarkan juga ganti ruginya.

Saya tidak mau menyebutnya sebagai santunan, karena itu bukan sedekah. Itu adalah kompensasi akibat kecerebohan pengelolaan ibadah haji. Wajib ditagih!

catatan Eko Kuntadhi

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s