Ini saya kasih tips murah untuk memahami keragaman masyarakat di manapun di dunia ini: jika Anda mau menilai negara/masyarakat lain, maka cukup lihatlah dan amati dengan cermat masyarakat/negara di lingkungan Anda. Sebagaimana masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, masyarakat belahan “dunia lain” juga sama warna-warni. Jadi jangan gampang menghakimi. 

Saya nulis begini karena banyak orang yang gampang sekali mengenalisir atau “menggebyah uyah” masyarakat/negara lain. Misalnya, ada yang bilang masyarakat Amerika (atau negara-negara Barat pada umumnya) itu sekuler-liberal, anti Muslim, benci Islam, hobi “kumpul kebo” (emang kebo suka ngumpul? he he), dlsb. Ada lagi yang bilang: orang-orang Cina itu komunis-ateis, culas bin licik. Yang lain bilang: orang-orang Arab itu ekstrimis, fundamentalis, teroris, konservatif, radikal, bahlul gundul pancul, dlsb.

Baca juga:

BANYAK MUSLIM MENGELUHKAN ISLAMPHOBIA, TAPI MEREKA SENDIRI KRISTENPHOBIA.. NAH LOH!!

Semua itu adalah hoax dan “pitnah”! Hanya kaum propagandis dan jamaah unyu-unyu saja yang berpikiran dan menilai demikian. Jadilah orang yang cerdas dan dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Lihatlah masyarakat di lingkungan kita. Warna-warni, kan? Nah, masyarakat lain juga sama. Jika ada sejumlah kelompok di Indonesia yang mengikuti “mazhab Betamburan”, bukan berarti bahwa semua umat Islam di Indonesia itu seperti kelompok “FBI” itu.

Bahwa ada warga Arab di Timur Tengah yang berpandangan fundamentalis-konservatif serta terlibat dalam aksi-aksi intoleran dan radikalisme, bukan berarti bahwa semua warga Arab, khususnya Arab Muslim, itu bersikap, berpandangan, dan berperilaku demikian. Banyak masyarakat Arab Muslim yang sangat baik, moderat, toleran, intelek, berwawasan luas, cinta damai serta anti-kekerasan dan intoleransi. Saya tahu itu karena setiap hari saya bergaul dengan mereka.

Bahwa ada masyarakat Barat yang norak, rasis, anti-Islam dan umatnya seperti kelompok “Islamophobis” memang ya. Tetapi bukan berarti bahwa semua warga Barat itu berpikiran, bertindak, bersikap, dan berperilaku demikian karena memang banyak sekali warga Barat yang sangat ramah dan pro terhadap Islam dan kaum Muslim.

Bahwa ada penduduk China yang komunis-ateis memang ya tapi bukan berarti semua warga China itu komunis-ateis karena memang realitasnya banyak sekali warga Tionghoa (baik yang di Tiongkok maupun Tionghoa diaspora) yang sangat agamis dan menjadi pengikut setia ajaran-ajaran agama, termasuk Islam (seperti etnis China Hui) dan anti-komunisme dan ateisme.

Baca juga:

PEJABAT NON-MUSLIM DI ZAMAN KHILAFAH

Sebagai sebuah ideologi, sistem politik-ekonomi, dan “pandangan dunia”, komunisme dan ateisme itu bersifat lintas-etnis, lintas-budaya, dan lintas-negara, bukan monopoli masyarakat China saja. Kaum komunis dan ateis ada dimana-mana: Barat, Arab, dan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Sebagaimana komunisme dan ateisme, radikalisme dan terorisme itu juga bersifat lintas-etnis, lintas-budaya, dan lintas-negara, bukan monopoli kelompok / masyarakat Arab/Muslim saja.

Mari, kita biasakan berpikir cerdas dan dewasa. Buktikan kalau kita umat manusia yang katanya makhluk “paling mulia”. Jangan mudah terprovokasi oleh kaum propagandis dan jamaah unyu-unyu. Kalau mau mengkritik, maka kritiklah perilaku dan pemikiran orang itu, bukan malah menyerang dan melecehkan pribadi orangnya, etnisnya, sukunya, agamanya, bangsanya, negaranya, dan seterusnya. Norak tau? He he.

Fanatik boleh-boleh saja asal masih dalam batas kewajaran, dan yang pasti jangan sampai jadi “unyu” supaya tidak mudah “diunyukan” oleh orang lain. Ayo nyusu dulu biar tidak unyu he he

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan