Muslim Indonesia tidak tepat Menyematkan kata “Ulama” pada Seseorang… Nah Loh!!

Saya perhatikan sebagian kaum Muslim di Indonesia itu “latah” dan tidak tepat menyebut atau menyematkan kata “ulama” pada seseorang. Dalam sejarah Islam, ada banyak sebutan atau “gelar informal” yang dihubungkan dengan keahlian atau profesi seseorang. Kalau ahli hadis disebut “muhadist”, ahli tafsir Al-Qur’an disebut “mufassir”, atau faqih (fuqaha), hakim, mufti, dan seterusnya.

Adapun kata “ulama” (jamak dari “alim”) dulu sebelum era Turki Usmani di abad ke-13, dipakai untuk para “sarjana polymath” yaitu para ilmuwan atau scientists yang menguasai berbagai bidang keilmuan, termasuk “ilmu-ilmu sekuler”, dan telah menulis banyak karya akademik. Menariknya, Al-Qur’an sendiri hanya menyebut beberapa kali saja kata “alim” yang menurut sejumlah sarjana seperti Ibrahim Syed merujuk pada pengertian “ilmuwan”.

Baca juga:

ADA-ADA SAJA ULAH ULAMA INTOLERAN DI NUSANTARA… HAL-HAL YG GAK PENTING DIHARAMKAN GITU LOH!

Jadi, dalam sejarahnya, ulama itu bukan “ahli ilmu-ilmu keislaman” tapi lebih pada “orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan” (apapun itu). Justru kata “fuqaha” yang lebih sering dipakai untuk merujuk para sarjana yang bukan hanya ahli ilmu hukum Islam (fiqh) atau teori hukum Islam (ushul fiqh) saja tetapi juga ilmu-ilmu keislaman lain. Sebutan “ulama” dulu juga biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang “sakral” dan “wooow” gitu seperti saat ini.

Kelak, pemerintah Turki Usmani-lah yang melakukan “redefinisi” kata ulama menjadi “ahli agama Islam”. Turki Usmani pulalah yang melakukan “sistematisasi” gelar ulama sekaligus “merestrukturisasi” dan mengangkat peran ulama sebagai “Shaikh al-Islam” yang sangat bergengsi karena sebagai “penasehat” sultan.

Nah, sekarang sudah tahu kan apa dan siapa “ulama” itu? Kalau tokoh-tokoh seperti Aa Gym, Ustad “Ucup” Mansur, Ustad Arifin Ilham, Felix Siauw, Mamah Dedeh, atau siapa itu yang kalau ceramah sering bilang: “jamaah oh jamaah”, dlsb, mereka semua ya kategorinya atau levelnya bukan ulama tapi “penceramah” atau “dai” alias “mubaligh” (kalau perempuan ya “mubalighot” he he) saja. Jadi, selama ini ada orang-orang yang sebetulnya gigih membela dai yang dikiranya ulama atau “ulama imajiner” he he (pasti entar ada yang ngamuk lagi disini he he).

Kalau mau menyebut ulama di Indonesia itu ya seperti Pak Habib Muhammad Quraish Shihab yang telah menulis berpuluh-puluh buku dan sangat dalam wawasan keagamaannya. Nah, kalau Shihab yang satunya (maksudku Rizieq Shihab, bukan Mbak Najwa Shihab he he), kira-kira gimana? Assuudahlah, kalian definisikan sendiri saja he he.

catatan Sumanto Al Qurtuby

Baca juga:

MENGHINA ULAMA SEKALIBER GUS MUS ADALAH TIPIKAL ISLAM KEMAREN SORE!

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s