Arab tak Berarti HABIB… Habib Tak Berarti Keturunan Nabi Muhammad (bagian 12)

Setelah Turki Usmani (Ottoman) keok dalam “Perang Mesopotamia” yang merupakan bagian dari rangkaian Perang Dunia I di kawasan Arab dan Timur Tengah, sejak 1920 Irak kemudian berada di bawah kontrol Inggris atas mandat dari Liga Bangsa-Bangsa. Meskipun sudah mendapatkan mandat dan berhasil mengalahkan tentara Turki Usmani, bukan berarti Inggris bisa berleha-leha alias melenggang-kangkung dengan mudah menguasai Irak. 

Baca Seri Sebelumnya:

Berbagai pemberontakan melawan Inggris dari masyarakat lokal Irak terus mengalir dengan deras. Berbagai elemen masyarakat Kurdi, Assyria, Yazidi, Kristen, Syiah, Sunni, dlsb melancarkan perlawanan terhadap Inggris. Perlawanan dilakukan dengan berbagai macam cara: dari boikot menolak pemilihan “kepala daerah” yang disponsori Inggris sampai angkat senjata. Dulu, Sunni dan Syiah (baik yang bertenis Arab atau Persi) bersatu padu melawan Inggris.

Beberapa tokoh pejuang legendaris yang melawan Inggris ini antara lain adalah Syaikh Muhammad Mahdi al-Khalissi (w. 1925), seorang pemimpin spiritual Syiah ternama yang juga profesor ahli kajian Islam dan rektor Sekolah Teologi di Khadimiyah, Bagdad.

Beliau dulu mengeluarkan fatwa yang berisi larangan berpartisipasi dalam pemilihan “pemimpin Irak” yang dibackup oleh Pemerintah Inggris. Fatwa itu dipatuhi oleh hampir semua elemen masyarakat Irak, termasuk warga Sunni dan non-Muslim, sehingga mengakibatkan kegagalan pemilihan.

Syaikh Mahdi juga memimpin pemberontakan melawan Inggris yang kemudian dikenal dengan “Revolusi Irak” pada tahun 1920. Pemberontakan ini disokong oleh para elit Sunni, Kristen, Yazidi, Assyria, dan bekas aparat Turki Usmani yang tergusur dari kekuasaan. Setelah berkali-kali melakukan perlawanan, Inggris akhirnya memutuskan untuk mendeportasi Syaikh Mahdi ke India.

Tetapi lucunya masyarakat Muslim India, termasuk Syiah, menolak Syaikh Mahdi. Hal ini karena India dulu berada dibawah kontrol Inggris. Syaikh Mahdi akhirnya dideportasi ke Yaman, kemudian Makah (atas undangan Syarif Hussein), dan terakhir Iran atas undangan Muhammad Mosaddegh, politisi senior Iran waktu itu, sampai wafat disana.

Pemimpin pemberontak lain yang melawan Inggris adalah Syaikh Mahmoud Barzanji, seorang tokoh Kurdi. Syaikh Barzanji berkali-kali mengadakan perlawanan dan bahkan sempat mendirikan Kerajaan Kurdistan yang berumur sekitar 2 tahun sebelum dirangsek oleh tentara Inggris. Syaikh Mahmoud Bazanji (atau Barzinji) adalah seorang syaikh dari tarekat Qadiriyah dari klan Barzanji di kawasan Sulaimaniyah.

Klan Barzanji ini sangat terkenal di Irak. Banyak dari mereka yang menjadi ulama hebat yang pengaruhnya hingga sampai ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sejak berabad-abad yang lalu, banyak para ulama dari klan Barzanji ini yang menjadi guru dan ulama senior di Makah dan Madinah yang murid-muridnya banyak yang dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, Lombok, dan Sulawesi.

Terlepas dari berbagai rangkaian pemberontakan melawan Inggris, yang jelas, pemerintah Inggris dulu pada tahun 1921, menunjuk Faisal I (putra kedua Syarif Hussein Makah) dari klan Bani Hasyim untuk menjadi raja di Kerajaan Irak (al-Mamlakah al-Iraqiyah).

Kerajaan Irak ini secara resmi memperoleh kemerdekaan pada tahun 1932 berdasarkan Perjanjian Anglo-Irak tahun 1930. Saat itu, Nuri al-Said yang ditunjuk sebagai Perdana Menteri-nya. Nuri al-Said ini adalah politisi senior Irak yang kelak memainkan peran penting dalam merumuskan dasar-dasar Negara Irak modern, pasca rontoknya Kerajaan Irak.

Sejak 1921, berbagai pemberontakan dan kudeta mewarnai Kerajaan Irak. Setahun setelah Kerajaan Irak memperoleh kemerdekaan dan otonomi dari Inggris, Raja Faisal I wafat, yang kemudian digantikan oleh putranya, Ghazi. Raja Ghazi hanya memimpin beberapa tahun saja. Pada 1939 ia meninggal dan digantikan oleh putranya yang masih kecil, Faisal II.

Karena masih anak-anak, kendali kerajaan dipegang oleh sepupunya, Abdullah, yang berasal dari Hijaz. Kelak, pada 1941, pemerintahan Abdullah dikudeta oleh Perdana Menteri Rasyid Ali al-Kailani, karena tidak terima Irak dipimpin oleh “non-putra daerah”. Sama seperti Abdullah, Rasyid Ali ini juga seorang sayyid (keluarga sadah) dari klan al-Kailani yang sangat terkenal di Irak. Bagaimana kelanjutan Kerajaan Irak dan nasib klan Bani Hasyim di Irak? (bersambung)

catatan Sumanto Al Qurtuby 

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s