AA GYM MENYAMAKAN AHOK DENGAN FIRAUN… GAK NYAMBUNG BANGET!! (2)

Berbeda dengan anggapan Aa Gym, Ahok justru mengidolakan sosok Musa (Moses), “tokoh legendaris” Yahudi Israelite (kaum “Yahudi Alkitab” atau suku-suku Israel kuno) yang melawan fir’aun (pharaoh) Mesir. Perlu diskusi khusus dan intens antara ahli studi Bible, Egyptolog (ahli kajian sejarah Mesir kuno), sejarawan, arkeolog, dan paleoantropolog untuk membicarakan tentang siapa sebenarnya nama fir’aun yang dilawan oleh Musa, dan siapa nama fir’aun-fir’aun yang berkuasa di Mesir pada zaman Musa. 

Baca juga:

AA GYM MENYAMAKAN AHOK DENGAN FIRAUN… GAK NYAMBUNG BANGET!! 

Bukan hanya itu saja, bahkan perlu kajian dan diskusi khusus di FB ini tentang sejarah Musa dan kaum Israelite beserta tokoh-tokoh Israelite lain seperti Ya’kub, Yusuf, Bunyamin, dlsb, itu sendiri yang membangun narasi atau diskursus ketertindasan suku-suku Israel kuno dari para fir’aun Mesir. Diskusi ini penting untuk mengungkap historitas dan asal-usul munculnya Yudaisme sebagai sebuah agama atau “sistem teologi”, apalagi informasi tentang ini sangat terbatas, baik dalam Bible maupun Al-Qur’an.

Tetapi yang jelas, ada sejumlah teori tentang siapa fir’aun yang berkuasa di Mesir yang menyebabkan Musa migrasi, siapa nama fir’aun-fir’aun yang hidup di zaman Musa, serta siapa anak perempuan fir’aun yang merawat Musa. Ada yang menyebut Fir’aun Thutmose II (di era Dinasti ke-18) di zaman Kerajaan Baru yang menyebakan Musa dan sejumlah orang eksodus dari Mesir.

Pendapat ini dikemukakan oleh ahli Bible Alfred Adersheim dan didukung oleh arkeolog Joel Klenck. Ada pula yang menyebut Amenhotep II, Rameses II, atau Merneptah (putra Rameses II) sebagai “fir’aun bengis” yang berkuasa di Mesir yang menyebabkan Musa hijrah.

Siapapun nama fir’aun yang berkuasa di zaman Musa, yang jelas narasi tentang Musa versus Fir’aun ini ada pada era Kerajaan Baru. Perlu diketahui, sejarah Mesir Kuno dibagi menjadi sejumlah periode atau era yang cukup pelik mengkategorikannya.

Sebelum era fir’aun atau zaman dinasti awal (sektar 3,000 SM), peradaban Mesir sudah cukup berkembang, dan termasuk salah satu peradaban tertua di dunia. Para ahli Egyptology dan sejarawan mengkategorikan era ini sebagai “Periode Pra-Dinasti, antara 5,300 – 3,000 SM).

Di zama Pra-Dinasti ini, ada sejumlah peradaban dan kebudayaan yang sangat penting, yaitu peradaban/kebudayaan Neolitik, Badaria, dan Naqada. Menarik untuk dicatat, pada zaman ini masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal sistem agrikultura, berternak, berburu, memancing, seni kerajinan (meskipun tentu saja masih sederhana), dlsb sebagai bagian dari sistem penghidupan dan ekonomi mereka. Mereka juga sudah mengenal sistem penguburan mayat dan ritual keagamaan.

Bukan hanya itu, “sistem perjenggotan” juga sudah dikenal oleh masyarakat Naqada di zaman Mesir Kuno. Dulu, jenggot merupakan “tanda keperkasaan” dan “simbol kekuasaan.” Oleh karena itu tidak heran jika para pemburu binatang (hunters) dan “tukang perang” (warriors) di masyarakat Naqada berjenggot panjang dan lebat.

Sistem kefir’aunan (dinasti atau kerajaan) di Mesir baru dimulai sejak 3,000-an SM ketika Narmer sukses menyatukan masyarakat Mesir Atas dan Mesir Bawah. Era Kefiraunan atau Periode Dinasti ini dibagi menjadi beberapa fase: Kerajaan Awal, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru.

Cerita atau narasi tentang Musa vs Firuan ini baru muncul di zaman / era “Kerajaan Baru” ini (khususnya antara 1,500 – 1,000 SM). Selama ribuan tahun ini, Mesir silih berganti dikuasai oleh sejumlah suku dan kelompok masyarakat, bukan hanya dari Mesir sendiri tetapi juga dari bangsa-bangsa lain seperti Persia dan Romawi. Kelak, Arab, juga ikut menaklukkan dan menguasai Mesir.

Sejak Fir’aun I, Narmer, ada banyak sekali fir’aun di Mesir. Tidak semua fir’aun di Mesir Kuno itu laki-laki, ada beberapa yang perempuan seperti Nitocris, Hatshepsut (yang dikenal dengan sebutan “Ratu Mesir”; ada yang mengatakan dialah sosok yang merawat Musa), Neferneferuaten, dan tentu saja Cleopatra.

Pula, sebagaimana umumnya kerajaan di dunia ini dimana ada raja-raja yang jahat tapi juga ada raja-raja yang baik, begitu pula dengan fir’aun: ada fir’aun-fir’aun yang rakus, bengis, dan gemar perang tapi ada pula yang sangat baik hati, dermawan, cinta damai, dan semangat membangun kemajuan masyarakat yang dipimpinnya.

Di antara sekian banyak fir’aun di Mesir, ada sekitar 25 nama fir’aun legendaris di zaman Dinasti Mesir Kuno ini, antara lain, Narmer, Menes, Djoser, Snefru, Khufu, Khafre, Neferefre, Pepi I, Senusret, Ahmose, Amenhotep, Thutmose, Akhenaten, Tutankhamun, Rases, Seti, dlsb (lama-lama pegel nih jari nulis nama-nama dari “planet Mars” he he).

Apakah semua fir’aun ini menganggap diri mereka sebagai “Tuhan” seperti Ramses II? Tentu tidak. Apakah semua fir’aun ini tidak menyembah Tuhan? Tentu saja tidak. Ada banyak fir’aun yang sangat relijius dan hobi membangun tempat ibadah untuk acara-acara ritual keagamaan. Jangan kemana-mana, panteng terus ya he he (bersambung)

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan Komeng gan!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s