Sejarah Pengharaman Babi bagian keenam

Ini kelanjutan “kuliah virtual” tentang “Bab Perbabian” yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik “babi liar” maupun “babi domesik”) di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat.

Baca juga:

Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah.

Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah “binatang primadona” masyarakat Arab dan non-Arab lain di kawasan Timur Tengah yang diternak dan dikonsumsi oleh berbagai kelompok masyarakat, baik yang nomad (komunitas yang hidupnya berpindah-pindah) maupun yang menetap (sedentary), baik yang tinggal di area urban maupun “pedesaan” (rural).

Kala itu, babi adalah sumber protein yang sangat prestisius, sebelum posisinya digeser oleh ayam (ayam beneran lo ya, bukan “ayam kampus” he he) yang diperkenalkan oleh masyarakat nomad dan pelayar dari Asia, termasuk Asia Tenggara.

Oleh masyarakat suku di Timur Tengah, ayam dipandang lebih praktis, ekonomis, dan bergizi / berprotein tinggi, berbeda dengan babi yang, meskipun mengandung protein tinggi, tapi sangat boros (air dan makanan) dan ribet mengangkutnya, khususnya bagi suku-suku nomad.

Dalam konteks “masyarakat agama”, Muslim bukan satu-satunya yang mengharamkan atau memberi justifikasi teologis atas pengharaman mengonsumsi daging babi. Komunitas Kristen juga ada yang mengharamkan babi (seperti Kristen Advent).

Apalagi masyarakat Yahudi, sangat keras dalam mengharamkan babi. Yahudi bahkan bukan hanya mengharaman daging babi saja tetapi juga daging-daging hewan lain yang dipandang “tidak pantas dan tidak layak” untuk diknsumsi juga ditabukan tidak boleh dimakan.

Halakha (Hukum Agama Yahudi) jauh lebih ketat ketimbang fiqih (hukum Islam) dalam soal “makanan halal” ini (dalam tradisi Yahudi disebut “kosher”). Oleh karena itu, saya sarankan jika umat Islam kebetulan sedang di negara-negara Barat tapi kok ragu makanannya halal atau haram kalau mau makan di warung, maka datanglah ke warung-warung Yahudi, dijamin pasti 100% halalan thayiban he he.

Menariknya adalah, meskipun Islam secara tegas mengharamkan makan daging babi tetapi Al-Qur’an, sepanjang yang saya tahu (mohon dikoreksi kalau saya keliru), tidak memberi rincian alasan atau penjelasan yang jelas kenapa daging babi yang diharamkan (kenapa bukan daging kuda nil atau anjing laut, misalnya).

Ini berbeda dengan teks-teks suci dalam agama Yahudi (Yudaisme) yang cukup jelas dan detail dalam memberi penjelasan dan rationale atau alasan pengharaman babi. Teks-teks Yudaisme juga mengklasifikasi sejumlah binatang yang haram untuk dikonsumsi.

Al-Qur’an tidaklah demikian. Selain babi, ada lagi yang diharamkan secara tegas (tapi tidak disertai alasan penjelasan) yaitu darah, bangkai, dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Jadi, alasan pengharaman babi ini masih misterius dalam Islam.

Sejumlah ahli hukum Islam (fuqaha) mencoba memberi tafsir dan menjelaskan tentang keharaman daging babi ini, misalnya karena berbahaya bagi kesehatan tubuh kalau dikonsumsi karena mengandung “cacing pita”.

Kalau dianggap bahaya karena berpotensi mengandung penyakit, maka tinggal cara masaknya saja dibetulin, beres kan? Lagian, bukan hanya babi, semua daging hewan mengandung penyakit kalau cara masaknya tidak bener.

Lagi pula, kalau memang berbahaya dan mengancam kesehatan tubuh: kenapa masyarakat Jepang dan Tiongkok yang gemar makan daging babi sejak zaman bahoela umurnya malah panjang-panjang? Atau orang-orang Manado, Batak, Ambon, Papua, Kupang, dlsb yang gemar makan “rica-rica” atau sate babi juga sehat-sehat saja kan mereka? Saya yang tidak pernah makan daging babi malah sering “masuk angin” (kalau “keluar angin” sih sudah menjadi tradisi semua orang he he).

Alasan lain konon diharamkan karena “perilaku babi” yang jorok. Ah semua binatang ya jorok gak tahu mandi (kalau mandi pun gak sabunan) dan gak pernah ke salon. Lagian, semua tergantung dari orang yang merawat babi juga, kan? Jorok dan tidak juga tergantung dari persepsi masing-masing karena “kejorokan” itu bersifat relatif-subyektif.

Jadi, alasan pengharaman babi dalam Al-Qur’an, bagiku, masih sangat misterius, dan penjelasan para ahli fiqih itu juga belum memuaskanku karena tidak “ilmiah” dan terkesan mengada-ada (bersambung).
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FBungmanto%2Fposts%2F10158249428250523%3Fcomment_id%3D10158249461095523&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FBungmanto%2Fposts%2F10158249428250523%3Fcomment_id%3D10158249457410523&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FBungmanto%2Fposts%2F10158249428250523%3Fcomment_id%3D10158249448450523&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FBungmanto%2Fposts%2F10158249428250523%3Fcomment_id%3D10158249458680523&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FBungmanto%2Fposts%2F10158249428250523%3Fcomment_id%3D10158249438610523&include_parent=false

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan