Tentang Kesaksian Kyai MAKRUF AMIN di pengadilan AHOK: Biarkan HAKIM yg Bekerja…

Kesaksian Kyai Makruf Amin di pengadilan kemarin dalam kapasitas dia selaku ketua MUI. Ketika dikonfrontir oleh pengacara Ahok dengan berbagai pertanyaan kritis, kita melihat itu semata teknis persidangan. Sebab dengan cara itulah hukum bekerja

Konsen pertanyaan seputar pada independensi MUI dalam mengeluarkan sebuah keputusan keagamaan. Apalagi yang bergesekan dengan kepentingan politik dan membakar emosi orang banyak.

Mengenai pembuktian bagaimana duduk perkara kesaksian itu, apakah Pak Kyai benar menerima ‘perintah’ telepon dari SBY atau tidak, kita serahkan pengadilan yang menilainya. Kita serahkan hakim mencari pembuktian hukumnya. Biarlah hukum bekerja.

Sayangnya kini kita saksikan ada pihak yang mencoba menarik-narik proses persidangan ke arena politik. Pertanyaan kepada Kyai Makruf Amin di ruang sidang malah dikait-kaitkan dengan NU.

Soal pertemuan AHY dengan PBNU, itu hal biasa. NU itu organisasi agama yang terbuka dan menjalin silaturahmi dengan semua pihak. Jika ada satu-dua orang tokoh politik bertamu, tentu bukan hal yang aneh.

Kita yakin NU di bawah Kyai Said Agil Siradj tetap konsisten menjaga khittahnya. Apalagi soal Pilkada yang cuma setitik noktah dalam masalah keumatan. NU terlalu besar untuk diajak bermain dalam pemilihan Gubernur DKI.

Jadi bukan pertemuan itu yang dibahas dalam persidangan Ahok kemarin. Tapi adanya dugaan komunikasi Kyai Makruf sebagai ketua MUI dengan SBY dan itu menyangkut soal sikap keagamaan yang dikeluarkan MUI.

Iya benar. Kyai Makruf adalah Rais Am PBNU, sebuah posisi yang sangat dihormati. Tapi kehadirannya di sidang kemarin semata dalam posisinya sebagai ketua MUI.

Tidak ada yang meragukan kapasitas keilmuan Kyai Makruf. Hanya saja dalam dunia politik, beliau tidak selincah Gus Dur atau Kyai Hasyim Muzadi. Bahkan ada anggapan, di internal MUI Kyai Makruf seperti di kelilingi orang-orang dengan berbagai kepentingan.

MUI itu banyak orangnya. Mulai dari pengusaha, akademisi, aktifis keagamaan atau tokoh agama. Mulai dari orang yang berpandangan lunak sampai garis keras. Belakangan memang terasa, orang-orang yang berhakuan keras seperti mendominasi arah gerakan MUI.

Mereka berlindung di bawah nama besar Kyai Makruf yang sekaligus tokoh NU ini. Nah. bisa saja kepentingan mereka bertemu dengan pihak luar yang memiliki target politik praktis.

Dalam Pilkada Jakarta, MUI seperti diseret masuk arus. Apalagi setelah ada GNPF-MUI yang terus bikin atraksi. Setelah kemarin ‘membakar’ umat dengan aksi 411 dan 212, kini ada usaha baru untuk menarik jamaat NU dalam kasus Ahok. Bisa dikatakan ini upaya kedua yang membawa-bawa emosi umat dalam pusaran Pilkada.

Lihat saja, mereka yang kemarin mencerca-cerca Kyai Said Agil. Mereka yang mencibir maulid dan ziarah, sekarang belagak mau bersimpati pada Rais Am PBNU. Padahal sesungguhnya merekalah yang sedang mencari simpati warga NU untuk kepentingan politiknya.

Sekali lagi, kita serahkan saja proses hukum pada jalurnya. Biarkan hakim menilai setiap kesaksian.

catatan Eko Kuntadhi

Baca Komentar Netizen

https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fkuntadhi%2Fposts%2F10211889821904417%3Fcomment_id%3D10211889886626035&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fkuntadhi%2Fposts%2F10211889821904417%3Fcomment_id%3D10211889970988144&include_parent=false
https://www.facebook.com/plugins/comment_embed.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fkuntadhi%2Fposts%2F10211889821904417%3Fcomment_id%3D10211890566203024&include_parent=false

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan