Arab tak Berarti HABIB… Habib Tak Berarti Keturunan Nabi Muhammad (bagian 8)

Dalam konteks modern, keturunan Ali bin Abi Thalib, baik dari jalur Fatimah binti Nabi Muhammad maupun dari jalur Fatimah binti Huzam al-Kullabiyyah (populer dengan sebutan Umm al-Banin dari Suku Bani Kilab) tersebar di berbagai negara.

Baca Seri Sebelumnya:

Sejumlah sarjana berpendapat, jika keturunan Ali dan Fatimah binti Nabi Muhammad disebut “sadah” (sayyidat untuk perempuan) atau “asyraf” (syarifat untuk perempuan), maka keturunan Ali dan Fatimah binti Huzam disebut “alawi”. Istilah alawi” juga dipakai untuk menyebut “pengikut Ali bin Abi Talib.” Perlu penelitian dan kajian lebih lanjut dan serius tentang istilah dan kaum”alawi” ini mengingat ada sejumlah perselisihan pendapat.

Hati-hati, tidak semua nama kelompok Muslim dewasa ini yang menggunakan nama “alawi itu adalah “alawi” (keturunan Ali-Fatimah binti Huzam). Ada beberapa kelompok Islam dan “rezim Muslim” (baik yang berafiliasi politik, tasawuf atau sufisme, atau sekte keislaman tertentu) yang menggunakan nama “alawi” (atau “alevi” / “alavi”, tergantung dialek bahasa mana yang dipakai).

Misalnya sekte Syiah Alawi di Suriah (dan Libanon) yang juga disebut Nusairiyah (karena sekte ini didirikan oleh Ibnu Nusair pada abad ke-9 M) atau Arab Alawi. Kemudian Alawi Bohra (nama sekte Islam di India dan Pakistan), Alevi di Turki (kelompok Sufi), Sadah Ba ‘Alawi di Yaman (kelompok sayyid keturunan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir), Sulalatu Alawiyin atau Dinati Alawi di Maroko, dlsb.

Penting untuk diketahui, tidak semua keturunan Ali ini kelak menjadi pengikut sekte agama Islam Syiah, meskipun istilah “Syiah” itu sendiri awalnya merupakan sebutan untuk kelompok atau partai pendukung Ali bin Abi Thalib (karena itu dulu kelompok ini juga disebut “Syiatu Ali” atau pendukung / pengikut Ali). Banyak dari keturunan Ali ini yang menjadi pengikut Sunni dan aliran Islam lain.

Syiah dalam pengertian “sekte agama” atau “aliran teologi” baru muncul belakangan setelah terjadi proses “radikalisasi teologi-keagamaan” dalam internal para pendukung Ali ini. Dengan kata lain, tidak semua keturunan Ali itu menjadi pengikut sekte Islam Syiah, meskipun awalnya mereka itu adalah Syiah (baca, “kubu Ali). Kok “mbulet” sekali ya? He he

Seperti saya jelaskan sebelumnya, Syiah awalnya merupakan sebuah “kelompok politik” (berpusat di Kufah, Irak) yang membela “kubu Ali” yang berseberangan dengan “kubu Muawiyah” (dulu berpusat di Damaskus, Suriah).

Menarik untuk diketahui, di Suriah saat ini, sejak revolusi Hafiz al-Assad tahun 1970, negara ini dipimpin oleh kaum Alawi (bukan “sadah”) dari keluarga “al-Assad” (sejak tahun 2000 dipimpin oleh Bashar al-Assad, putra Hafiz al-Assad).

Meskipun sejumlah kelompok Syiah (baca: “pendukung / pengikut Ali) sukses di dunia politik-pemerintahan, tetapi tidak semua keturunan Ali sukses di jalur ini, kecuali di sejumah negara seperti Yordania dan Maroko. Banyak pula dari keturunan Ali yang memilih menjadi kaum intelektual dan agamawan atau menekuni Sufisme. Yaman, Iran, Irak, Libanon, adalah contoh dari negara-negara yang cukup banyak populasi Syiah.

Khusus di kawasan Arab Teluk (Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman), kaum “sadah” sama sekali tidak dominan secara politik-ekonomi dan sangat minor perannya di dunia politik-ekonomi.

Para penguasa politik-pemerintahan di kawasan Arab Teluk adalah suku-suku Arab diluar klan Bani Hasyim. Di Saudi sendiri, “rezim sadah” tumbang pasca rontoknya Syarif Husain pada awal 1920-an. Seluruh keluarga Syarif Husain kemudian mengungsi ke Yordania (dulu Transjordan).

Di Saudi, sejumlah tokoh dari golongan “sadah” memilih menekuni dunia pendidikan dan keagamaan. Ada beberapa yang cukup populer seperti Sayyid Alawi dan putranya Sayyid Muhammad (mereka sudah wafat, kini diteruskan oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Hassani) di Makah (mereka semua pengikut aliran Sunni mazhab Maliki) dan Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Nasr al-Salman (beliau tokoh intelektual dan ulama Syiah yang sangat dihormati di daerah Saudi timur).

Karena ada ikatan historis-kultural Sunni-Syiah ini, maka hubungan di akar rumput kelompok Sunni-Syiah di Saudi ini sangat baik. Hanya sekelumit kelompok ekstrim saja yang hobi memusuhi Syiah di kawasan Arab ini (bersambung)

catatan Sumanto Al Qurtuby

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan