Geliat Rusia di Suriah membuat ISIS Berdarah-darah!

Pada tahun 1993 Profesor Samuel Huntington dari Harvard University mengemukakan teori Clash of Civilization yang terkenal itu yang mengatakan bahwa setelah Perang Dingin berakhir (dimana Uni Soviet runtuh dan Amerika tampil sebagai pemenang tunggal) maka perang berikutnya yang akan terjadi adalah antara dunia Barat dengan kelompok radikal berbasis agama. Sinyalemen ini semakin diperkuat pasca munculnya Al Qaeda, Tragedi WTC dan serangkaian aksi serangan dan teror bom di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Tapi kemudian pada tahun 2012 secara tak terduga muncullah Kamerad Vladimir Putin, mantan agen rahasia KGB yang berhasil menjadi Presiden Rusia. Dia ingin mengembalikan kejayaan Rusia seperti di era Uni Soviet dahulu. Peta politik duniapun mulai berubah.

Prediksi Prof Huntington mungkin tidak akurat dan relevan lagi. Perang adu pengaruh antara Amerika dan Rusiapun kini terjadi lagi. Hanya saja kini mereka memanfaatkan dan menunggangi isu-isu agama yang cukup sensitif di kalangan negara² yang memang belum cukup cerdas dan maju seperti di Asia dan Afrika. Era Cold War kini berubah menjadi Era Proxy War.

Kasus yang paling nyata adalah konflik Suriah. Kelompok pemberontak seperti ISIS, Jabhat Nusra, Free Syrian Army dan yang lainnya didukung serta disponsori oleh Arab Saudi, Turki dan Amerika Serikat (yang tentunya juga ada Israel di belakangnya).

Geliat Rusia di Suriah membuat ISIS Berdarah-darah!

Sementara kelompok pemerintah didukung oleh Iran, Cina dan Rusia. Isu konflik Sunni-Syiah sebenarnya hanyalah “permainan / manipulasi pikiran” yang diciptakan oleh para Negara Adidaya tersebut, khususnya adalah Amerika.

Putin sadar bahwa Amerika hanya bersandiwara dalam kampanye “Perang Melawan ISIS” karena dibalik slogan itu ternyata Amerika dan Arab Saudi justru bermain mata dengan teroris ISIS untuk menjatuhkan Bashar Asaad yang didukung oleh Iran dan juga Rusia.

Putin ingin mengembalikan keseimbangan dan tidak ingin Amerika berlaku sewenang² seolah sebagai sosok tunggal penguasa dunia yang bebas bertindak seenaknya. Terbukti gempuran² pasukan Rusia akhirnya berhasil memukul mundur para teroris ISIS. Dan kekalahan ISIS ini tentunya sangat disesalkan dan ditangisi oleh Amerika, Israel, Arab Saudi, Turki dan para pendukungnya yang banyak bertebaran di dunia termasuk Indonesia.

Jadi menurut saya prediksi Prof Huntington bisa saja keliru. Clash of Civilization bukan lagi konflik ataupun perang antara Dunia Barat dengan Dunia Islam (radikalisme). Perang ini tetap saja antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Blok Timur yang dipimpin oleh Rusia.

Hanya saja strategi dan metodenya sudah jauh berbeda. Kini mereka menggunakan domba yang terus-terusan mengembik tapi sebenarnya tak punya daya selain hanya mengikuti perintah majikannya. Tetap saja yang bertarung adalah kedua Gajah Besar itu (Amerika dan Rusia), dan para domba yang diadu oleh mereka tetap saja akan menjadi pihak yang kalah karena mati terjepit tanpa bisa berbuat apa-apa.

sumber: catatan Muhammad Zazuli di Facebook

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan