Kebodohan adalah Musuh Terbesar dalam Memahami Situasi Politik apapun, termasuk Perang di Suriah

Saya sungguh tidak habis pikir dengan cara berpikir kaum sumbu pendek yang sangat mudah dipancing dan dimanfaatkan demi kepentingan politik tertentu. Tulisan ini sengaja saya buat sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya segala permasalahan besar di dunia ini berasal dari kepentingan ekonomi dan politik yang tumbuh dari sifat serakah dan egois manusia yang gemar menghalalkan segala cara. Dan salah satu cara paling mudah dan paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara “menjual agama”.

Meski Era Perang Dingin telah berlalu tapi ternyata perang pengaruh antara Negara-negara Adidaya masih memainkan peranan penting dalam menentukan bulat lonjongnya serta panas dinginnya suhu politik dunia masa kini. Mereka tidak peduli dengan jatuhnya ribuan korban tak berdosa demi tercapainya ambisi mereka. (Ingat, kematian sekitar 250.000 warga Hiroshima Nagasaki yang hanya dianggap sebagai “kerusakan sampingan” atau Collateral Damage oleh para politisi Amerika di tahun 1945).

Suriah dulunya adalah negara yang stabil, makmur, damai, beragam, toleran dan menghargai perbedaan sebagaimana Indonesia. Tapi demi kepentingan politik dan ekonomi tertentu, mereka dipancing dan dimanipulasi untuk menghancurkan negaranya sendiri dan berperang dengan sesama bangsanya sendiri hanya karena permainan politik kotor antara Israel, Amerika, Arab Saudi dan Turki yang berseberangan kepentingan dengan Iran, Rusia dan Cina untuk memperebutkan pengaruh politik dan penguasaan atas sumber daya minyak dengan memanfaatkan isu agama Syiah vs Sunni.

Sesungguhnya ini bukanlah perang antara Sunni vs Syiah melainkan Perang Proxy antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika melawan Blok Timur yang dipimpin oleh Rusia dengan menggunakan isu SARA di negara muslim.

Amerika dan Rusia tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Mereka terlalu cerdas untuk melakukan hal sepele semacam itu. Cukuplah sesama muslim Suriah dan “jihadis” muslim dari 80 negara saja yang saling berperang dan meregang nyawa. Mereka cukup ongkang-ongkang kaki dan menikmati hasil akhirnya sambil tertawa terbahak-bahak mentertawakan kebodohan orang2 yang berhasil mereka permainkan.

Ingat, Suriah adalah negara yang sangat tegas memusuhi Israel yang dianggapnya telah merebut tanah warga Palestina. Demi stabilitas Israel di Timur Tengah maka Suriah perlu dihancurkan. Dan hal ini hanya bisa dilakukan dengan dukungan Amerika Serikat yang juga memiliki hubungan mesra dengan Arab Saudi karena kepentingan bisnis minyak di antara keduanya.

Buktinya ISIS yang mendapat bantuan dana dari Amerika dan Arab Saudi tidak pernah mengeluarkan seruan untuk memerangi Israel. Dengan dukungan Arab Saudi yang memiliki jaringan kuat di dunia muslim (baik melalui suplai dana, suplai ideologi, suplai buku² agama maupun suplai ulama dan suplai ustadznya ke seluruh dunia Islam) tentu akan sangat mudah menggiring opini publik Islam, misal dengan isu Sunni vs Syiah yang selalu saja mereka tebarkan.

Sungguh hanya orang bodoh yang mudah dimanfaatkan untuk saling membenci dan saling menghancurkan secara tanpa sadar demi kepentingan pihak luar yang memanipulasi pikiran mereka. Negara hancur, rakyat menderita dan pihak lawan tertawa terbahak-bahak melihat kesuksesan permainan serta strategi mereka yang brilian dan jenius yang tidak bakalan sanggup dipahami oleh kemampuan otak serta standar IQ 2D mereka.

Operasi intelejen dan rahasia yang dipersiapkan oleh beberapa gelintir otak yang jenius semacam Robert A. Cohen, ketua AIPAC – lobby Zionis terkuat di Gedung Putih, mampu mempermainkan nasib dan mengorbankan jutaan orang awam.

Di Indonesia juga sama saja. Ribuan orang turun ke jalan, seruan makar dikumandangkan, politik kebencian dijalankan, aksi boikot “Rush Money” ditebarkan tanpa mereka sadar bahwa sebenarnya ada kekuatan asing yang ingin menghancurkan dan menguasai sumber daya negeri ini dengan cara memanipulasi, mengendalikan dan memanfaatkan mereka yang memang minim wawasan, dangkal dalam berpikir, gampang diprovokasi dan rentan diadu domba.

Tidak hanya kekuatan asing, para pemain politik dalam negeri yang licik dan menghalalkan segala cara juga turut serta berusaha mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kecenderungan mereka yang bodoh tapi keras kepala ini. Seandainya mereka sedikit saja lebih pintar pasti mereka bisa membaca situasi ini. Sesungguhnya hanya orang bodohlah yang mudah membenci dan hanya orang yang mudah membencilah yang gampang dimanfaatkan serta di adu-domba.

Ideologi Pan Islamisme yang diserukan oleh Arab Saudi dan Turki ternyata mengandung motif yang layak dipertanyakan karena ternyata kedua negara tersebut juga berhubungan mesra dengan Amerika Serikat dan Israel. Dan tidak aneh jika para pendukung ideologi tersebut di negeri ini seperti FPI, PKS, HTI dan kelompok pro ISIS lainnya ikut meradang saat ISIS dan kelompok pemberontak Suriah lainnya berhasil dipukul mundur dari Aleppo. Kelompok2 ini juga tidak pernah menyerukan kecaman kepada ISIS bahkan seolah ikut mendukung dan membelanya.

Suriah dekat dengan Iran dan Rusia. Iran adalah negara Islam yang saat ini paling hebat kekuatan dan tehnologi militernya karena didukung oleh Rusia. Jelas ini merupakan ancaman bagi dominasi pengaruh Amerika di dunia dan stabilitas Israel di Timur Tengah.

Arab Saudipun takut tersaingi pengaruhnya di Dunia Islam oleh Iran yang kebetulan menganut Syiah. Itulah sebabnya kelompok² yang berafiliasi dengan Gerakan Wahabi yang berasal dari Arab Saudi (seperti FPI, PKS, HTI dan lain-lain selalu menyerukan slogan “Anti Syiah”) dan hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Amerika sebagai sekutu Arab Saudi untuk melancarkan agenda2nya ke negara² muslim.

Dalam politik tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Itulah sebabnya bahkan yang bertentangan ideologipun seperti Arab Saudi dan Turki bisa bekerjasama dan bersekutu dengan Amerika dan Israel, khususnya dalam kasus Suriah ini.

Semua demi kepentingannya sendiri-sendiri. Dan pada akhirnya terungkaplah sebuah kebenaran abadi bahwa hanya Fuluslah yang maha benar dan menjadi Tuhan sejati bagi semua umat di dunia. Sungguh musuh terbesar bukanlah setan, bukan iblis, bukan Dajjal, bukan Amerika, bukan Zionis, bukan orang kafir dan juga bukan pihak lain tapi kebodohan, kebencian, keserakahan dan kepongahan kita sendiri.

Bagi Anda yang masih peduli dengan NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika mari kita sebarkan pesan perdamaian ini. Fenomena dan gejalanya sudah tampak sangat jelas di negeri ini dimana kelompok radikal makin tumbuh dengan subur dan pesat di negeri yang damai dan kaya sumber daya alam ini.

Kehancuran Suriah dimulai dari “demo² anti pemerintah” yang disebarkan oleh kelompok radikal. Kini rakyat Suriah menyesal karena telah masuk ke dalam jebakan dan terperosok ke dalam lubang penderitaan yang berkepanjangan. Jangan sampai Indonesia di-Suriah-kan oleh mereka yang hanya menjadi pion dan boneka tanpa sadar dari Negara² Adidaya yang licik, serakah tapi jenius tersebut.

sumber tulisan: catatan Muhammad Zazuli di Facebook

https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fh.abdurakhman%2Fposts%2F1297990946915510%3A0&width=500

Sumber Kredibel:

kekalahan ISIS disambut oleh warga Aleppo

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan