Pengakuan Seorang Wanita Berjilbab yg Pernah Kuliah di Universitas Katolik

Pertama kali mengenakan kerudung (eijke mantan akhwat HTI, jadi menurut eijke itu kerudung, bukan jilbab. Jadi tolong terima aja ye…) Sekitar tahun 90-an.

Pengakuan Seorang Wanita Berjilbab
yg Pernah Kuliah di Universitas Katolik

Kerudung lebar yang ukurannya 1,5 m. Syar’i abis. Tak perlu diragukan. Gamisnya, melewati mata kaki. Masa itu saya masih kuliah. Kalian tahu saya kuliah di mana? Universitas Katholik Atmajaya Yogyakarta.

Berkerudung masa itu bukan perkara mudah. Keluarga saya menentang habis-habisan. Saya juga ngeri akan perlakuan kampus nantinya. Karena kalaupun mereka marah, mereka berhak untuk itu. Begitu pikir saya.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Hari pertama mengenakan kerudung ke kampus, saya tiba-tiba dipeluk hangat oleh salah satu suster (calon biarawati/sudah biarawati?) yang kuliah di kampus sama dari fakultas yang berbeda. Senyumnya lebar dan hangat. Dan sisanya? Biasa saja. Civitas kampus tidak heboh seperti dugaan saya sebelumnya. Mereka welcome dan menerima saya seperti biasa, seperti keluarga. Tak ada teguran lisan dan tulisan, apalagi penekanan. Sama sekali tak ada.

Sebagai super duper minoritas (karena saat itu saya satu-satunya akhwat berkerudung di Semesta UAJY) saya teramat sangat dilindungi, aman damai dan sejahtera. Luar biasa.

Bahkan ada yang lucu, saat pemotretan untuk ijazah kelulusan. Beberapa teman yang kuliah di salah satu universitas Islam mengeluhkan kewajiban membuka kerudungnya untuk memperlihatkan telinga. Saya sempet was-was. Tapi dasarnya saya kan pengertian. Apalagi selama ini UAJY sangat supportif dan baik kepada mahasiswinya yang mbeling ini. Jadi semisal UAJY memperlakukan hal yang sama atau malah meminta melepas kerudung untuk foto, saat itu saya memutuskan untuk menerimanya.

Tapi sekali lagi, kecemasan saya itu meleset. Saat saya menanyakan ke BAAK, bagian kemahasiswaan, Bapak dan Ibu petugas di sana malah tertawa kecil.

“Nggak perlu. Foto aja seperti biasa, ditutup. Tetap diterima dan tetap legal distempel segala macam. Jangan khawatir, semua aman.”

Gusti…
Luar biasa kerennya toleransi di kampus saya itu!

Hari ini,
Sekitar 17 tahun setelah kelulusan saya, harusnya generasi makin cerdas ya. Wong mbak-mbak jilbaber makin mbladher. Demo segitu banyaknya juga bisa. Jangankan jadi super duper minoritas kek saya, ceramah panas menggelora mo bikin penghuni Kota Wisata jadi muslim semua aja bebas kok.

Tapi kenapa saya yang KTP-nya masih tercetak Islam justru merasa makin cemas, makin ketakutan?

Kenapa kalian jadi nakutin gitu?

sumber: catatan Ken Aline (https://www.facebook.com/Kenalmora) di Facebook

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

[jetpack_subscription_form title=”Yuuk langganan Blog Semakinra.me” subscribe_text=”jangan ketinggalan update terbaru kami!”subscribe_button=”Berlangganan”]

Iklan