Arab tak Berarti HABIB… Habib Tak Berarti Keturunan Nabi Muhammad (bagian 2)

Jadi jelaslah bahwa, seperti dalam “kuliah virtual” sebelumnya, tidak semua Arab adalah habib, tidak semua keturunan keluarga Nabi Muhammad (sayyid/syarif) itu adalah habib, dan bahkan tidak semua yang bernama habib itu adalah habib.

Habib sebagai sebuah nama Bahasa Arab bisa dipakai oleh siapapun, baik etnis Arab maupun bukan, baik Arab Muslim maupun Arab non-Muslim. Di “Pesbuk” ini juga banyak yang bernama depan “Habib” tapi bukan “habib” dalam pengertian sebutan kehormatan untuk seorang alim-ulama keturunan Nabi Muhammad tadi. Anda juga boleh-boleh saja memberi nama anak-anak Anda dengan “Habib” yang berarti “yang terkasih“.

Fenomena “habib bukan habib” ini biasa saja. Ini sama dengan banyak orang menggunakan nama “sultan” tapi bukan sultan, raja tapi bukan raja, laksamana tapi bukan laksamana, raden tapi bukan raden, tengku tapi bukan tengku, demikian seterusnya.

Adapun “habib” (al-habib) sebagai sebuah “gelar kehormatan” di Indonesia khususnya diberikan secara informal oleh masyarakat Muslim kepada para alim-ulama dari kaum sadah/asyraf (para keturunan keluarga Nabi Muhammad) yang memiliki kualifikasi keilmuan, keulaman, dan keteladanan tertentu. Jadi, tidak semua sayyid/syarif itu habib tapi semua habib pasti sayyid/syarif.

Sebagai sebuah gelar informal, sama seperti fenomena tidak semua kiai itu adalah kiai dalam pengertian seorang Muslim alim Jawa. Di Jawa, sebutan “kiai” bisa berarti nama sebuah tombak sakti seperti tombak Kiai Plered di Kesultanan Yogyakarta, nama sebuah “hewan sakti” seperti Kiai Selamet, nama sebuah “kerbau bule” di Kasunanan Surakarta.

Dulu, ada seorang pendeta Kristen Jawa legendaris bernama Kiai Sadrach (w. 1924). Masa kecilnya bernama Radin yang kemudian diganti Radin Abbas (lengkapnya Radin Abbas Sadrach Soepranata) waktu nyantri di Jombang, sebelum menjadi pengikut Kristiani. Ia dibimbing oleh Kiai Ibrahim Tunggul Wulung (w. 1885) yang juga seorang evangelis Kristen Jawa legendaris.

Kembali ke laptop. Seperti saya jelaskan sebelumnya, para sayyid di Indonesia adalah keturunan dari keluarga Ba ‘Alawi atau ‘Alawi saja, salah seorang cucu dari Ahmad bin Isa al-Muhajir (keturunan Nabi Muhammad ke-10 dari jalur Imam Ja’far bin Muhammad al-Sadiq, generasi ke-5 keturunan menantu Nabi, Ali bin Abu Thalib.

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib). Beliau mendapat sebutan “al-Muhajir” yang berarti orang migran karena beliau memang asalnya dari Basrah, Irak, yang kemudian migrasi ke Hadramaut, Yaman, karena ada kekacauan sosial di Irak di zaman Dinasti Abbasiyah. Makam beliau masih dikeramatkan di Hadramaut.

Keturunan Ba ‘Alawi (kata “Ba” ini merupakan dialek Arab Hadramaut yang berarti “bani” atau anak-cucu / keturunan) ini tidak hanya tersebar di Asia Tenggara (khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei) tetapi juga India dan Afrika (khususnya Tanzania, Kenya, Somalia, dan Comoros).

Para keturunan dari keluarga ‘Alawi ini bisa dilihat dari nama belakang mereka seperti Alatas, Aljunied, Alhadad, Alkaaf, Assagaf, Shihab, Alydrus, Alhabshi, Aljufri, dlsb.

Kalau nama belakang mereka adalah “Bamukmin, Baswedan, Ba’asyir, Basalamah, Baraja, Bafadhal,dlsb, jelas bukan dari keluarga sayyid/sadah ini jadi tidak mungkin bergelar habib meskipun mereka pakai nama habib.

Tidak semua orang Arab-Hadramaut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah keturunan keluarga sadah Ba ‘Alawi. Ada banyak yang berasal dari kelompok-kelompok sosial-agama non-sadah di Hadramaut seperti kelompok masyayih atau Irshadi, kelompok suku atau disebut qabail, atau kelompok du’afa, yaitu kelompok / kasta sosial paling rendah seperti petani, pekerja kasar, bekas budak, dlsb. Jadi harus hati-hati ya jangan tertipu karena tidak semua yang bermuka “Arab-Yaman” dan Arab lainnya itu “habib he he.

Bagaimana penjelasan berikutnya tentang “dunia habib” ini? Bersambung lagi ajalah, capek jari-jemariku yang lentik ini he he

sumber: catatan Sumanto AL Qurtuby di Facebook

Celoteh Netizen




5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!
Advertisements


Categories: Catatan Kecil