Belajar dari Kasus Buni Yani: Kebebasan Berpendapat Bukannya Tanpa Batas!

Buni Yani diperkarakan dan sekarang jadi tersangka bukan karena potongan video (bukan video lengkap) yg diunggahnya yg karena dipotong (bukan full) sangat dapat merubah arti/makna pembicaraannya. Namun dia jadi Tersangka karena judul/caption Video yg diunggahnya itu yg (sengaja) diplintirnya dengan menghilangkan kata “pakai” sehingga memprovokasi dan membuat kehebohan di negeri ini.

Belajar dari Kasus Buni Yani: Kebebasan Berpendapat Bukannya Tanpa Batas!

Unsur kesengajaan juga sungguh mudah ditangkap karena sebagai mantan journalist dan sebagai seorang dosen di sekolah public relation (PR terkenal) Buni tentu sangat paham bahwa sangat banyak pengguna Medsos di negeri ini yang hanya membaca judul tulisan tanpa pernah membaca dan mencermati isi.

Lagi pula hanya itulah yg ditulis si Buni dan kalau pun orang membuka attachment videonya yg kebuka adalah potongan video (bukan video lengkap) yg berisi sebuah kalimat saja yang tentu akan diinterpretasikan lain jika orang dengan pikiran jernih melihat seluruh video dan kalimat2 yg diucapkan Ahok sebelum dan sesudahnya sebagai suatu rangkaian kalimat dalam video itu.

belajar-dari-kasus-buni-yani

ini status Buni Yani yg provokatif dan menghilangkan kata “pakai” dari transkrip pembicaraan Ahok di Pulau Seribu. Ia juga mengunggah potongan video dari Pemda DKI yg sudah dipotong di wall facebooknya

Dari awal (saat kasus Ahok mulai memanas) saya sudah mengatakan bahwa dia (Buni Yani) bisa dan sudah patut kena karena yg dilakukannya jelas² suatu pelanggaran hukum disamping apa yg dilakukannya telah mengakibatkan kehebohan yg luar biasa di negeri ini.

Orang dgn bermodal sorban putih menghadang dan teriak² akan membayar 1 Milyar untuk orang yang membunuh atau memenggal Ahok itu juga sudah jadi Tersangka. Tinggal Fahri Hamzah, Rizik Shihab, Desmond Mahesa, Ahmad Dani, dan bisa juga Fadli Zon yg mestinya masuk dalam arena hukum yg sejenis juga. Kita tunggu saja.

Sesungguhnya apa yg orang² itu lakukan bukanlah cara²2 yg diajarkan oleh agama. Juga bukan cara2 yg patut dilakukan secara etika. Bagi orang yg masih jernih hati dan pikirannya akan sangat mudah dibedakan antara orang yg mengkritik, menyindir atau menghina, memprovokasi dan menyebar kebencian. Penegakan hukum dibidang ini sayangnya baru mulai dilakukan walau better late than never.

Akibatnya karena banyak diantara pelaku itu adalah public figure, banyak orang awam merasa hal² demikian tidak apa² dan itulah demokrasi dan kebebasan berpendapat. Padahal hal demikian sangat tidak patut secara etika dan juga melanggar hukum.

Tidak sependapat, mengkritik bahkan secara keras itu boleh dan bahkan harus dilakukan jika ada hal² yg tidak benar. Namun tentu hal itu sangat berbeda dengan mencaci maki bahkan sampai menggunakan kata² yg tidak pantas atau memprovokasi/menghasut massa untuk suatu kepentingan² tertentu.

So, marilah kita jugakan Medsos ini secara arif dan pada tempatnya karena Medsos tetaplah sebuah ruang publik (walau kita bicara di wall sendiri). Tetap ada etika yg harus kita jaga agar tidak disalah artikan oleh publik yg membaca/melihat.

Masih ngeyel juga ??? Gini aja deh… yg tetap pada ngeyel itu kalau mandi di kamar mandi di dalam rumahnya telanjang gak ? Nah…. sekali-kali cobalah mandi telanjang dihalaman/pekarangan terbuka depan walau masih dalam pagar rumahnya. Berani..? Saya yakin sekali² dilakukan aja sudah heboh dan berubah tuh persepsi para tetangga, apalagi jika sering2 dilakukan.

Masih tetap nekad dan mau ngeyel dengan alasan tapi kan ini masih halaman/pekarangan (depan) rumahku sendiri..? Ya, betul. Tapi tetangga juga punya hak untuk menilai dan mengadukan bahwa yg dilakukan itu mengganggu kenyamanannya, mengganggu jalan umum didepan rumah itu. Bukan hanya orang waras yg lewat disana yg merasa malu, namun juga jalanan jadi maceeeetttt karena tak ada orang lewat yg gak menoleh dan bahkan berhenti disana. Lebih parahnya lagi anak² dibawah umur pun pada ikut melihat dan berkerumun ketawa-ketiwi disana. Tidakkah merasa bersalah atas kerusakan moral anak2 yg melihatnya ?

Jangan sekarang bilang bahwa kebebasanmu diberangus rezim penguasa. Ini simply soal logika, etika dan hukum. Kebebasan berpendapat dan keterbukaan informasi di negeri ini masih sangat terbuka lebar. Namun caci-maki, hina-menghina, berbicara isi kebon binatang, memprovokasi bakar, bunuh atau memlintir berita atau menyebarkan hoax yg menyesatkan yg berakibat penyebaran kebencian atau menimbulkan perpecahan umat, bangsa dan negara selain bukanlah etika dan budaya bangsa ini, juga dapat melanggar hukum yang berlaku.

So, mari bijak dalam menggunakan Medsos. Salam Indonesia Raya.
sumber: catatan Agustus Sani Nugroho di Facebook

Baca juga: Mengapa Umat Islam amat Sensitif?

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil