Kalo ada di Arab sana, FPI sudah lama ditumpas!

Banyak yang mengira kalau negara-negara Arab di Timur Tengah akan menerima dengan hangat “ormas-ormas tengil” seperti FPI, FUI, dlsb yang hobi melakukan kekerasan komunal dan tindakan intoleransi di masyarakat. Ini adalah dugaan yang keliru. Keliru besar. Besar sekali. 

Kalo ada di Arab sana, FPI sudah lama ditumpas!

Justru sebaliknya, jika di Arab Teluk khususnya, ormas-ormas semacam ini sudah dibubarkan, dibekukan. Sementara para pelaku dan “cheerleader”-nya “direhabilitasi”. HTI juga, sudah pasti ditumpas kalau disini, dan memang negara-negara Arab Teluk melarang HT (maksudku, Hizbut Tahrir bukan Harry Tanoe hehe).

Arab Teluk (atau biasa disebut “the Gulf) adalah sebuah “geografi politik-kultural” di Timur Tengah yang mencakup sejumlah negara: Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Inilah kawasan terkaya, termaju, dan termodern di antara 22 negara Arab di Timur Tengah (dan Afrika Utara). Di kawasan inilah, ekonomi, industri, modernisasi, teknologi, internet, berkembang pesat. Di kawasan ini pula, kaum migran non-Arab tumbuh berkembang dengan suburnya. Disini pula, Bahasa Inggris telah menjadi “bahasa kedua” dan menjelma menjadi “lingua franca”.

Dari aspek sistem politik-pemerintahan, negara-negara di Arab Teluk mengikuti berbagai macam model. Ada yang monarkhi konstitusional seperti Kuwait (resminya “Negara Kuwait”, ada yang monarkhi absolut berbentuk kerajaan seperti Saudi dan Bahrain, monarkhi absolut berbentuk kesultanan seperti Oman, ada yang “abu-abu”, antara monarkhi absolut dan monarkhi konstitusional seperti Qatar, ada pula yang berbentuk “monarkhi federal” seperti Uni Emirat Arab.

Baca juga: Kami Tidak Benci Budaya Arab, Kami Hanya Benci Orang Brengsek!

Meskipun menganut sistem politik-pemerintahan yang “agak berlainan” tetapi mereka memiliki kesamaan, yakni mengutamakan pembangunan ekonomi, kemajuan negara, supremasi teknologi, keamanan nasional, dan ketertiban rakyat. Keamanan nasional (national security) dan ketertiban rakyat dipandang sebagai “kunci” dan “jalan utama” menuju pembangunan ekonomi dan kemajuan bangsa tadi.

Untuk mewujudkan visi-misi dan cita-cita ini, maka negara-negara ini tidak mengtolerir sejengkalpun adanya gerakan pembentukan ormas-ormas atau kelompok-kelompok sosial serta aksi-aksi publik-komunal dalam bentuk “demonstrasi massa”, apalagi aksi-aksi kolektif-kekerasan seperti umumnya di Indonesia.

Karena semua itu dipandang dapat mengganggu keamanan nasional dan berpotensi mengakibatkan “kekacauan sosial” yang pada tahap berikutnya dipandang bisa menghambat pembangunan ekonomi dan kemajuan negara. Intinya: “rakyat tidak boleh berisik.” Kalau “berisik” ya langsung “dievakuasi”. Karena itu di kawasan Arab Teluk tidak ada “ormas-ormas rewel”. Semua baik-baik dan “duduk manis” sejahtera.

Fenomena ini sebetulnya bukan “unik” Arab Teluk saja tetapi sudah menjadi “praktek umum” di negara-negara yang tidak menganut sistem “demokrasi liberal”, termasuk beberapa negara tetangga Indonesia. Jadi, sekali lagi, sungguh aneh bin ajaib, melihat tingkah-polah para “ormas genit” dan “unyu-unyu” di Indonesia yang tidak mengsyukuri nikmat berbangsa dan bernegara di dalam wadah NKRI dan Pancasila yang aduhai nikmatnya. Allahu Akbar!

sumber: catatan Sumanto Al Qurtuby di Facebook

fpi

Baca juga: Terorisme di Indonesia dan Saudi

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil