Mengomentari Aa Gym Tentang Pemimpin, Akhlak, dan Kerja

Belum lama ini Aa Gym membuat komentar yang menarik dan menggelitik untuk ditanggapi. Ia mengatakan, kurang lebihnya begini, “Pemimpin itu tidak cukup bilang kerja, kerja, kerja tapi akhlak, akhlak, akhlak, baru akan dicintai oleh rakyatnya”.

abdullah-gymnastiar-di-twitterMengomentari Aa Gym Tentang Pemimpin, Akhlak, dan Kerja

Saya kira ia benar bahwa seorang pemimpin politik-pemerinahan yang baik itu tidak hanya “bekerja” saja tetapi juga harus “berahlak”. Hanya saja, menurut saya, ada sesuatu yang “ganjil” dalam pernyataan beliau, yang perlu dibahas lebih lanjut.

Misalnya, apa definisi “akhlak” itu? Apa kriteria orang atau pemimpin yang “berakhlak” itu? Dalam Bahasa Arab, kata “akhlak” itu merujuk pada pengertian kebajikan (virtue), moralitas, atau tindak-tanduk dan watak yang baik dan mulia. Kata ini merujuk pada hal-ikhwal yang menyangkut “kemanusiaan” bukan “ketuhanan”, masalah “keduniaan” bukan “keakhiratan”.

Baca juga: Jihadnya orang sakit jiwa!

Nah, sekarang mari kita ambil contoh soal “berakhlak” ini. Jika ada seorang pemimpin politik yang rajin ke masjid (atau gereja dan tempat-tempat ibadah lain), hobi “munggah kaji” atau “naik haji” atau umrah bolak-balik ke Mekah kayak setrikaan, gemar mengunjungi pengajian dan acara-acara keagamaan, selalu mengenakan “pakaian agamis”, dlsb.

Tetapi ia rakus dan serakahnya minta ampun, tukang korupsi, hobi menggarong atau mengemplang uang rakyat, tidak peduli dengan kemelaratan rakyatnya yang penting dirinya, keluarganya, dan kelompoknya perutnya gendut-gendut, masa bodoh dengan kebodohan rakyatnya, tidak peduli dengan kemunduran daerahnya, dst. Kira-kira pemimpin model begini itu “berakhlak” tidak?

Sebaliknya, jika ada pemimpin yang ceplas-ceplos, jarang “ibadah individual”, berpakaian ala kadarnya, berpenampilan “mboys” atau “nggirls”, dlsb. Tetapi ia adil dan bijak kepada rakyatnya, peduli dengan masalah-masalah keumatan, serius membenahi wilayahnya, anti-korupsi dan bentuk-bentuk permalingan lainnya, dlsb. Apakah pemimpin model begini itu “berakhlak” atau tidak?

Sekarang saya tanya: kira-kira mana yang lebih berakhlak antara Bu Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan itu dengan Bu Atut Chosiyah mantan Gubernur Banten itu? Ayoo jawab… 😀

Kira-kira mana yang lebih “berakhlak” antara gubernur yang selalu bilang “mari berdoa” agar banjir hilang karena banjir adalah “cobaan Tuhan” dengan gubernur lain yang sibuk bekerja untuk menanggulangi banjir? Ayooo jawab lagi… 😀

Lalu, pertanyaan lain lagi: apakah pemimpin yang “bekerja” itu “tidak berakhlak”? Bukankah kalau ada pemimpin yang serius bekerja itu berarti menunjukkan ia seorang yang berakhlak? Karena kalau pemimpin itu tidak berakhlak, tidak memiliki moralitas alias “tidak bermoral”, ia akan malas bekerja dan tidak akan peduli dengan nasib rakyatnya, yang penting ia dapat gaji buta, perut gemuk, dan “wudel bodong”. Peduli setan dengan rakyat.

Kalau daerahnya atau rakyatnya sedang tertimpa masalah, tinggal serahkan saja masalah itu ke Tuhan: “Yang sabar ya, ini cobaan dari Tuhan. Mari berdoa”. Giliran enak dimakan sendiri, tapi giliran susah, Tuhan yang dikambinghitamkan sebagai sumber bencana dan malapetaka. Apakah ia pemimpin yang berakhlak? Ayo mikirrr

Komentar Tweeps tentang Cuitan AA Gym di atas

bayangkara-se-di-twitter edy-supriyanto-bejo-di-twitter idham-nizar-di-twitter norman-hadi-di-twitter sanudin-sanu-di-twitter wagub-kw-kamvret-di-twitter %f0%9f%98%8dwiwit-utami%f0%9f%98%8d-di-twitter

sumber: catatan Sumanto Al Qurtuby di Facebook

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil