Mengapa Umat Islam amat Sensitif?

Dalam Quran ada ayat yang mengatakan bahwa tidak ridha kaum Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu (umat Islam) mengikuti agama (millah) mereka. 

Bagi umat Islam yang beriman secara tekstual, mereka memaknai ayat ini dalam makna bahwa Yahudi dan Nasrani senantiasa memusuhi mereka. Karena ayat Quran itu dianggap berlaku mutlak dan selalu benar dan cocok dalam segala situasi, maka dalam situasi apapun Yahudi dan Nasrani itu selalu (mereka anggap) memusuhi.

Mengapa Umat Islam amat Sensitif?

Jadi ibaratnya, kalau ada 3 orang, yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani, dalam satu ruangan, Yahudi dan Nasrani tidak melakukan apapun, diam saja di situ, tetap dianggap memusuhi. Kenapa? Karena mereka diyakini pasti memusuhi.

Menurut saya ayat ini salah satu faktor yang membuat umat Islam sangat sensitif, sedikit-sedikit marah, menuduh orang lain menista agama mereka. Hal yang tadinya kecil, di tempat tertutup, dibuat besar, jadi mendunia.

Saya sebenarnya sudah sering menulis, bahwa ayat-ayat Quran itu ada konteksnya. Seperti soal ayat yang bilang bahwa orang Yahudi dan Nasrani itu. Ada konteksnya. Gus Nadir (Nadirsyah Hosen) juga sudah menjelaskan panjang lebar. Ayat itu soal pemindahan arah kiblat. Konteks ayatnya, khusus buat nabi Muhammad, bukan untuk seluruh umat Islam sepanjang masa.

Tapi pandangan seperti ini diabaikan oleh banyak orang. Mereka akan menuduh ini pandangan liberal, tidak cukup ilmu untuk menafsir, dan sebagainya. Hehehe, Nadirsyah Hosen itu doktor di bidang ilmu syariah. Tentu saja dia lebih berilmu dari ustaz-ustaz yang suka teriak di mesjid itu.

Orang-orang lebih nyaman melihat Yahudi dan Nasrani sebagai musuh, atau tepatnya, pihak yang selalu memusuhi. Kenapa? Ini erat kaitannya dengan situasi sekarang. Ekonomi, politik, dan teknologi dunia, dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani. Produk dan gaya hidup mereka memenuhi ruang hidup seluruh muslim.

Orang-orang Islam merasa terdesak oleh “serbuan” produk orang-orang yang mereka sebut kafir itu. Di satu sisi mereka khawatir, akidah dan akhlak mereka akan tergerus digerogoti oleh budaya yang dibawa melalui berbagai produk itu. Tapi di sisi lain, mereka tak kuasa menolak. Mereka membutuhkannya.

Tak semua produk itu fundamental sebenarnya. Orang-orang tahu bahwa media sosial misalnya, bisa ditinggalkan. TV kabel juga. Smartphone juga. Tapi meninggalkan itu semua jadi berat, karena sebenarnya orang ingin tetap hidup menikmati dunia. Maka mereka hidup mendua. Antara ingin menikmati hidup, dan ancaman masuk neraka kelak.

Jadi, tuduhan permusuhan Yahudi dan Nasrani tadi adalah sebuah alat untuk menjaga kesadaran koneksi mereka dengan akhirat. Mereka ingin memastikan diri tetap berada dalam kelompok anti-Yahudi-Nasrani, guna memastikan tempat di surga.

Kepentingan lain, soal politik. Untuk konteks Indonesia, dalil ini sangat gampang dipakai dalam berbagai keperluan politik. Secara politik lebih menguntungkan kalau umat Islam punya musuh bersama dan abadi. Kalau diperlukan tinggal teriakkan saja kata kuncinya, maka orang akan bergerak ke satu arah yang diinginkan.

Mengapa Umat Islam amat Sensitif

Mengapa Umat Islam amat Sensitif

sumber: catatan Kang Hasan di Facebook

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil