Kamu berhak mengatakan Syiah itu sesat!

Kamu berhak mengatakan Syiah itu sesat. Serius. Sama seperti kamu juga berhak mengatakan Ahmadiyah itu sesat, Kristen itu sesat, Hindu, Buddha, Konghucu, Kejawen, Ateis, dll itu semua sesat. Itu bagian dari kebebasan berpendapat yang harus dihormati. Tapi itu bukan berarti kamu berhak melarang orang lain menjalankan keyakinannya. Mereka tidak mengganggu hidupmu, kan? 

Kalau kamu merasa Hari Raya Asyura itu sesat, kamu berhak datang ke depan gerbang lokasi acara mereka, lalu membagi-bagikan selebaran mengenai kesesatan Syiah di sana. Silakan kamu berdakwah pada orang-orang yang menurutmu sesat itu, tunjukkan mereka jalan terang dan ajaran sucimu yang tak terbantahkan itu. Ajak mereka ke surgamu. Itu hakmu (dengan konsekuensi, orang Syiah pun berhak mendakwahkan ajaran mereka kepadamu).

Begitu juga kamu berhak berdakwah di depan gerbang gereja, membuka stand buku-buku Islam di seberang wihara, kalau perlu mengirim surat undangan kepada pemuka-pemuka agama mereka untuk masuk agamamu, dll, dan sebaliknya. Silakan beradu argumen, dalil, berkompetisi secara fair.

Tapi sampai di situ saja batas kebebasanmu. Kamu tidak berhak memaksa membubarkan perayaan mereka, menyegel rumah ibadah mereka, mengusir dan membuat kekacauan seolah negeri ini milkmu seorang.

Bagaimana jika dengan alasan yang sama, perayaan Maulid Nabi tiba-tiba dibubarkan karena ada aliran Islam yang menganggapnya bid’ah lagi sesat? Bagaimana jika acara tahlil tiba-tiba dilarang karena ada aliran Islam yang mengharamkannya?

Perlakukan lah orang lain sebagaimana kau ingin orang lain memperlakukanmu. Tak suka masjidmu dibakar? Maka jangan membakar rumah ibadah orang lain. Tak suka ibadahmu dilarang-larang? Maka jangan melarang orang lain menjalankan ibadahnya. Hanya karena kau merasa banyak, bukan berarti kau berhak menindas yang sedikit.

Baca juga: Demokrasi: Dicaci Tapi “Digauli”

Membela minoritas berarti membela dirimu sendiri. Jika kamu sudah berdiri membela rumah ibadah orang lain yang dibakar, maka akan tampak sungguh berwibawa ketika kamu juga membela rumah ibadahmu yang dibakar. Tapi kalau kamu mengecam pembakaran rumah ibadahmu sendiri sambil menyerang rumah ibadah orang lain, menyerang acara keagamaan orang lain, maka kamu tak lebih dari seorang pecundang.

Kekerasan dan penindasan terhadap minoritas, di mana pun itu dari Aceh sampai Papua, mengirim sinyal buruk bagi penghormatan akan kebhinnekaan. Masa depan negeri ini yang dipertaruhkan. Kita tidak boleh diam.

Agamamu agamamu
Agamaku agamaku
Quranmu quranmu
Quranku quranku
Allahmu allahmu
Allahku allahku
Nabimu nabimu
Nabiku nabiku…

dari status facebook https://www.facebook.com/yuyun.prasetyo

kamu-berhak-mengatakan-syiah-itu-sesat

Kamu berhak mengatakan Syiah itu sesat

Baca juga: Hayo, Siapa yang “Paling Kafir” di antara Kita?

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil