Hanya Allah yang Tahu Kebenaran Makna dalam Al-Qur’an

Nusron Wahid benar menurut saya. Yang “paling tahu” kebenaran mutlak tafsir Al-Quran hanya Allah dan RasulNya. Para penafsir hanya tahu kebenaran relatif tafsir Al-Quran, bukan kebenaran mutlak. Mengapa relatif (nisbi)? Sebab masing² mufassir memiliki subyektivitas, sementara teks Al-Quran itu hamalatul aujuh/muhtamilul aujuh/multiinterpretasi. Dari situlah muncul beragam tafsir.

Hanya Allah yang Tahu Kebenaran Makna dalam Al-Qur’an

Dengan demikian, sesama penafsir tidak boleh mengklaim bahwa dirinya yg benar sembari menyesatkan lainnya. Memang ada tafsir bil ma’tsur dari Nabi yg diriwayatkan para sahabatnya, tp kebanyakan tafsir bi ra’yi wal ijtihadi. Tafsir yg ijtihadi artinya adalah produk pemahaman mufassir (fahmul mufassir) yg bisa benar dan bisa salah.

BACA JUGA: Tentang Pilkada DKI 2017

Nah, karena tafsir bersifat ijtihadi, maka para ulama dgn etika tinggi selalu menutup kajian²nya dgn mengucapkan wallahu a’lam bi murodihi, Allah yang lebih tahu maksudnya. Sedangkan para ulama hanya bisa menerka maksud Allah berdasarkan “dzan” atau persangkaan yg kuat. Hal itulah menurut Ulumul Quran atau kitab ilmu-ilmu Al-Quran.

contohnya. Al-Maidah: 51 ditafsirkan secara beragam karena perbedaan pendapat antar para Sahabat Nabi dan generasi rawi setelahnya terkait sabab nuzulnya. Ada yg memaknai “auliya” dgn sekutu, teman, dan ada yg memaknai dgn pelindung. Bahkan ada riwayat dari Ibnu Abbas, penafsir paling otoritatif dari kalangan Sahabat Nabi yg menyatakan bahwa al-Maidah : 51 berkaitan binatang sembelihan orang musyrik. Tidak ada yg menafsirkan sebagai gubernur.

Nusron Wahid juga bisa dibenarkan bahwa kata “auliya” yang ditafsirkan pemimpin hanya dalam terjemah bahasa Indonesia. Dalam bahasa asing menurut kamus Quran di bawah ini artinya bukan pemimpin.

sumber:

Terjemahan berbagai bahasa

  1. “Auliya” dlm Bahasa Indonesia (Pemimpin)
  2. Bahasa Jepang : 仲間, baca:nakama, (kawan, sekutu)
  3. Bahasa china: 盟友, baca=mengyou, (sekutu)
  4. Bahasa Inggris : Allies (sekutu), Friends (kawan)
  5. Bahasa Belanda: Vrienden (kawan)
  6. Bahasa Jerman: Freunden (kawan)
  7. Bahasa Italia: Alleati (kawan)
  8. Bahasa Perancis: Protecteurs (pelindung), alliés (sekutu)
  9. Bahasa Spanyol : Amigos (kawan)
  10. Bahasa Rumania: oblăduitori (wali)
  11. Bahasa Bosnia: Zaštitnike (pelindung)
  12. Bahasa Azerbaijan: Tutmayın (kawan)
  13. Bahasa Bulgaria: ближни, baca: blizhni (tetangga)
  14. Bahasa Bengali: বন্ধু, baca: Bandhu (kawan)
  15. Bahasa Turki: Dost edinmeyin (berkawan)
  16. Bahasa Denmark: Venner (kawan)
  17. Bahasa Swahili: Marafiki (kawan)
  18. Bahasa Albania: Miq (kawan)
  19. Bahasa Portugal: confidentes (orang terpercaya)
  20. Bahasa Melayu: Teman rapat,
  21. Bahasa Korea, Persia, Urdu semua menterjemahkan sebagai kawan.

Terjemah auliya sebagai sekutu atau pelindung atau kawan tersebut sebab mengacu pada sabab nuzul bahwa ayat tersebut turun saat kaum Muslimin kalah perang di Uhud, sehingga mereka berinisiatif bersekutu dan mencari perlindungan dari orang Yahudi & Nashrani tp Allah melarangnya sebab pada saat itu mereka terbukti melanggar perjanjian dgn kaum Muslimin. Dlm momentum lain, Rasulullah mengizinkan para sahabatnya hijrah ke Ethiopia untuk mencari perlindungan dari Raja Najasyi yang notabene pemeluk Nashrani yg adil.

Tapi, al-Maidah 51 rawan dipolitisasi (tasyis al-nushush) dgn argumentasi bahwa menjadikan kawan/sekutu/pelindung saja tidak boleh, apalagi menjadikan pemimpin/gubernur non muslim?
Politisasi terhadap ayat ini telah terjadi cukup lama dlm sejarah kebudayaan Islam. Para ulama dari sejumlah madzhab fikih juga menafsirkannya secara politis untuk melarang mengangkat pemimpin dari golongan non Muslim.

[Catatan: postingan ini dari kiai muda cemerlang: Irwan Masduqi]
sumber: catatan Sumanto Al Qurtuby di Facebook

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil