Catatan “Antropologi Haji” bagian Keempat: Umat Islam “Penyembah Batu”?

Jika kita menanyakan kepada kaum Muslim: apakah mereka umat yang menyembah batu? Tentu saja umat Islam akan serentak menjawab “Tidak”. Tetapi coba perhatikan, bagaimana perilaku jutaan umat Islam yang sedang di area Masjid Haram, Makah: mereka rela uyel-uyelan, berdesak-desakan, sikut-sikutan dan berebut mendekati batu-batu hitam, baik bernama ka’bah maupun hajar aswad, untuk memegangnya dan menciumnya.

Umat Islam “Penyembah Batu”?

Banyak umat Islam yang berdoa dengan khusuk dan bahkan menangis histeris di area batu-batu keramat dan sakral ini. Konon, umat Islam yang berhasil memegang dan mencium batu-batu ini dan berdoa disini akan dikabulkan oleh Tuhan semua doa-doanya. Makanya tidak heran, jika mereka rela berebut mendekat kabah dan hajar aswad.

BACA JUGA: Hayo, Siapa yang “Paling Kafir” di antara Kita?

Banyak cerita berseliweran yang sudah menjadi “rahasia umum” bahwa banyak umat Islam yang rela “menyuap” para makelar hanya untuk bisa mendekat, memegang, dan mencium batu-batu itu serta berdoa di sekitranya. Memang tidak mudah untuk mendekat tempat-tempat itu karena saking banyaknya manusia karena itu tidak heran jika sebagian dari jamaah haji / umrah rela membayar para makelar, termasuk para “bodyguard amatir” dan “pengawal pocokan”, untuk mengawalnya agar bisa menembus lautan manusia mendekati kabah & hajar aswad.

Meskipun umat Islam tampaknya memuja-muji kabah/hajar aswad, tentu saja mereka tidak mau disebut sebagai “kaum musyrik bin kapir” penyembah batu karena bagi mereka ka’bah/hajar aswad hanyalah “simbol” belaka: simbol dari kesakralan Tuhan. Dengan kata lain, bukan batunya yang mereka puja-puji, melainkan “zat” di balik batu-batu itulah yang mereka “sembah”.

Tapi uniknya, atau ironisnya, meskipun umat Islam mengangap wajar atau lumrah histeria di kabah/hajar aswad, sebagian kaum Muslim begitu getol dan heroik mengafir-sesat-musyrikkan para pengikut agama lain yang mereka anggap sebagai “penyembah batu”, “penyembah patung”, “penyembah gunung”, dlsb.

Ingat, jika kaum Muslim menolak dianggap sebagai “penyembah batu” dan menganggapnya hanya “simbol” belaka, umat agama lain juga sama: mereka bukan penyembah patung, batu, pohon, gunung dlsb karena semua itu (bagi mereka) hanyalah simbol belaka.

Sebagaimana umat Islam yang hanya menganggap sakral dan keramat batu-batu tertentu, umat agama / kepercayaan lain juga sama. Seperti kaum Muslim yang mempercayai ada “zat suci” di balik ka’bah / hajar aswad, umat agama lain juga sama: mereka menganggap ada “zat suci” di balik patung, batu, pohon, atau gunung tertentu. Buktinya tidak semua patung, batu, pohon, atau gunung mereka sembah dan puja-puji.

Karena itu sudah berapa kali saya mengingatkan: janganlah suka menuduh orang lain kafir, musyrik, atau sesat dalam beragama dan beribadah karena kita sebetulnya mempraktekkan hal serupa (bersambung)

Catatan "Antropologi Haji" bagian Keempat

Catatan “Antropologi Haji” bagian Keempat

sumber: catatan Sumanto Al Qurtuby di Facebook

Baca seri sebelumnya:

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil