Sumanto Al Qurtuby: Suka-Duka Menjadi Penulis

Suka-Duka Menjadi Penulis – Sebagai seorang penulis yang sudah cukup lama menggeluti profesi ini dan sudah menghasilkan berpuluh-puluh buku dan artikel ilmiah di berbagai jurnal serta ribuan kolom-kolom pendek (baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris), saya sudah cukup kenyang dengan berbagai pujian maupun cercaan. Saya hanya senyum-senyum sendiri mendapatkan berbagai “penghargaan” pujian maupun “pitnahan” itu.

Suka-Duka Menjadi Penulis

Ada yang bilang, saya mendapatkan uang melimpah (royalti dan honor) dari berbagai tulisan (baik buku, jurnal, koran, blog, dlsb). Padahal saya tidak dapat apa-apa dari tulisan-tulisanku. Menulis di jurnal-jurnal internasional berbahasa Inggris itu tidak dibayar meskipun sudah bekerja jungkir balik setengah mati dari menulis draf sampai proses editing yang memakan waktu berbulan-bulan.

Hampir semua buku yang saya tulis juga tidak menghasilkan uang berarti (kecuali sebagian kecil saja yang nilainya tidak seberapa hanya cukup untuk beli jajan). Bahkan banyak buku-bukuku yang saya donasikan: nulis sendiri, beli sendiri 😀

Sudah begitu, saya sering dituduh sana-sini: memakan “dana aseng” dan “duit asing”, “melacurkan keilmuan”, “corong Kristen-Yahudi”, “antek Ngamerika”, “agen liberal”, dlsb. Padahal, saya dari dulu tetap hidup “ala kadarnya”: mobil tidak punya, rumah juga sangat sederhana, pakaian-pakaianku juga hanya berharga ratusan ribu, kemana-mana jalan kaki atau naik angkot & ojek (kecuali ada teman-teman yang “bersedekah” memberi tumpangan mobil).

Uang gaji yang saya terima dari mengajar atau meneliti di Amerika, Singapore atau Saudi saya gunakan untuk membuatkan rumah yang “layak” untuk ibu dan kakak serta membantu kebutuhan keluarga dan saudara, menyekolahkan keponakan-keponakan, dan aneka keperluan orang-orang yang membutuhkan.

Karena tidak punya harta-benda di Panama, Singapore, Inggris dan lain-lain seperti para konglomerat itu, maka saya tidak perlu mengurus Tax Amnesty he he. Sederhana itu indah, damai, dan ayem-tentrem lo, tidak perlu takut kehilangan harta-benda (la memang tidak punya he he) jadi bisa tidur nyenyak (kecuali kalau banyak nyamuk he he). Harta karunku adalah buku yang menumpuk dan sekarang tak terurus karena sering ditinggal pergi ke luar negeri.

Ada lagi yang menuduh saya anti-agama Islam, anti-Arab, anti-umat Muslim dan anti-anti yang lain. Padahal tulisan-tulisanku banyak sekali, bukan hanya mengkritik pemikirian, cara pandang dan tindakan (sebagian) kaum Muslim tetapi juga umat agama lain. Saya sama sekali tidak begitu mementingkan tentang “baju” agama apa yang dipakai umat manusia, bahkan “tidak berbaju” agama pun, saya sama sekali tidak mempermasalahkan. Itu urusan pribadi masing-masing dengan “diri-Nya”.

Yang saya kritik adalah pemikiran, cara pandang dan tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai pluralitas dan kemanusiaan universal. Siapapun mereka. Darimanapun mereka. Apapun agama mereka. Jadi, saya bukan anti ini-itu. Saya hanya anti kolesterol jahat. Itu saja.

Kalau mau kaya ya jadi pengusaha, jangan jadi penulis atau guru. Kecuali kalau mau korupsi di pemerintahan, itu lain lagi. Atau kalau tidak ya bisnis “penggandaan uang” atau “memelihara tuyul” biar cepat kaya-raya. Kalau mau menekuni profesi sebagai penulis dan guru, harus “siap-siap miskin” he he. Mudah-mudahan orang yang suka menuduh saya ini-itu mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan segera insaf menyadari kekhilafannya he he

sumber: catatan Sumanto Al Qurtuby di Facebook

Suka-Duka Menjadi Penulis

Sumanto Al Qurtuby: Suka-Duka Menjadi Penulis

5 Artikel terakhir di Blog Semakin Rame

Yuuk langganan Blog Semakinra.me

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Komentarin gan!


Categories: Catatan Kecil