Untaian 100 Kata-kata Sedih Menusuk Hati

 Klik “>” untuk melanjutkan 

100 Kata-kata Sedih Menusuk Hati

Rindu padamu puan, tak pernah kikir, meski dalam cinta yang fakir. Sebab dalam dzikir, namamu rindu; cinta yang kudoakan

 

 Dulu, kau pandangan mata. Kini, menjadi derai air mata, dalam rindu yang kukenang, pada puisi cinta yang hilang
 Semenjak pergimu; tulisan ini menjadi fakir kata-kata, kala cinta kau bawa. Hingga rindu; terlunta meminta-minta
 Dalam puisiku, kau menjelma kata-kata, dengan cerita yang tak pernah bisa kujadikan kita
 Aku adalah lelaki sepi, dimana sunyi di peranakan, terdiam diantara dinding tawa dan sedih, ketika malam di perkuat rembulan
 Senja berbisik, menutup mata untuk tak berkata, dalam rindu yang tak terselip asa.
 Di tanganku; kau telah kugenggam. Di tangan orang tua; kita menjadi pilihan. Tengadahkan tangan, agar Tuhan mempersatukan
 Waktu terus berjalan, senja pun hilang perlahan. Namun, engkau masih saja tetap dalam lalai, sesat yang tak pernah sampai-sampai
 Tahukah kau, apa yang kusebut rindu? Adalah cintaku yang mengingat setiap saat. Tanpa kau tahu; aku menjagamu dalam 17 rakaat
 Kau pikir aku cemburu kepadamu? Tidak, sayang. Aku hanya cemburu kepadanya, sebab kau lebih bahagia dari cara yang kulakukan untukmu
 Dan tahukah kau apa yang kusebut cinta? Adalah rindu yang kusujudkan dalam 17 rakaat, di lapang sajadah; di taman Tuhan
 Pada titian bayangmu yang kian jauh, dalam nafas ini, kau masih dapat kusentuh, dengan cara merinduimu
 Barangkali rindu adalah sepucuk surat yang tak sampai aroma. Hingga menyisakan layu bunga di tangkai tanaman
 Jika dalam puisi ini tak kudapat cinta. Kelak, aku akan kembali, sebagai kata-kata yang menikahi sepi
 Sebab lisan tak kau dengar lirih, maka berderailah imajinasi, terangkai kata menjadi puisi; sepi
 Sejauh jarak menatap, begitulah pandangan cinta menetap, pada rindu-ku yang mengharap
 Kekasih; berlarilah, temukan cinta dalam rindu. Sebab hatiku, telah separuh jalan mengejar; mencarimu
 Tenang saja; kelak, akan kuparkir, cintamu yang fakir; dalam rindu yang getir
 Sepi ini, hening yang kujadikan puisi angan. Sebab cinta; menjadi puisi rindu dalam ingatan
 Kelak, hingga mata kita terpejam. Namamu; dalam doa kupasrahkan kepada Tuhan
 Senja telah pulang, malam pun sudah datang, adakah kau akan bertandang, sebagai kenang yang akan membayang
 Kau kusebut rindu, bukan karena kita tak pernah bertemu. Di ingatan terakhir, kau tak lagi di hadapanku
 Jika jiwamu adalah apa yang dekat dari ingatan, biarkan hatiku menjadi akhir kakimu melangkah

Kugapai kau dalam doaku, tapi takdir membisu. Mungkinkah cinta hanya rindu? Tuhan tolong hambaMu.

klik “->” untuk melanjutkan ke halaman selanjutnya

Komentarin gan!
Advertisements

Pages: 1 2 3 4


Categories: Status Galau